Pemprov Jatim Gelontorkan Rp 264 M Dongkrak Kembali Sektor TerdampakCorona

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat konferensi pers di Gedung Grahadi
SURABAYA-SUREPLUS: Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur telah melaksanakan pemetaan dampak sosial ekonomi dari Covid-19 di wilayah Jatim. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyatakan dana yang tersedia dan siap saat ini sebesar Rp 264 miliar. Namun, dana ini dinilai masih kurang untuk membantu sektor yang terdampak.

"Masih harus ada tambahan dana lagi, supaya kita dapat melakukan berbagai program yang terkait dengan social safety net, cash for work maupun intervensi terhadap pelaku UMKM yang terdampak," ungkap Khofifah, saat jumpa pers di Gedung Grahadi, Rabu (1/4/2020).

Khofifah mengungkapkan, untuk konsolidasi data sedang dikoordinasikan dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mendeteksi keluarga rentan, hampir miskin atau yang sudah miskin.

"Kordinasi kita bersama dengan BPS dan Dinas Sosial," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menjelaskan terdapat lima sektor yang sangat mempengaruhi ekonomi Jatim. Sektor tersebut, di antaranya adalah sektor industri, perdagangan, pertanian, akomodasi dan makanan minuman (mamin) serta infrastruktur.

"Apabila lima sektor ini dapat dimitigasi, maka kita tidak akan terlalu mengalami tekanan yang berlebih. Memang untuk sektor akomodasi dan mamin ini terpukul, tapi kita juga mengusahakan agar mereka tetap hidup seperti menjual makanan delivery service," kata Emil.

Menurutnya, sektor industri yang berkontribusi 75 persen terhadap ekonomi Jatim hingga kini masih terus berjalan. Untuk di Jatim sendiri ada 1.200 industri besar yang mempekerjakan 380.000 orang.

"Industri ini sedang dipetakan, jadi kita belum bisa mengkuantifikasi berapa dampaknya dan berapa lama industri bertahan," tuturnya.

Kendati demikian, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Dinas Perdagangan untuk mendata industri ini sesuai protokol penanganan Covid-19. Selain itu, saat ini memang ada kesulitan bahan baku industri yang langka ataupun harga naik tinggi, tetapi Disperindag sedang melakukan upaya substitusi bahan baku agar industri tetap beroperasi.

"Kami juga memastikan jalur pemasaran alternatif karena memang mal, hotel dan wisata sangat terdampak. Kami kerja sama dengan platform online Tani Hub, agar jangan sampai hasil pertanian tidak terserap pasar ketika jalur ritel/toko atau pasar terdampak," tutup Emil.(DEWID)

Posting Komentar

0 Komentar