Rizal Ramli: Kondisi Ekonomi Indonesia Akan Ambruk di Kuartal II dan III

[caption id="attachment_16440" align="aligncenter" width="790"] Rizal Ramli dan Khofifah Indar Parawansa saat menyaksikan pameran lukisan tunggal karya Yayak Yatmaka di Galeri AJBS, Surabaya, Selasa (10/3/2020).[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli memperkirakan kondisi perekonomian Indonesia akan ambruk, di kuartal kedua dan ketiga tahun 2020 ini. Virus Corona hanyalah faktor lain yang hadir memperlambat ekonomi. Namun, sebelum mewabahnya virus Corona, ekonomi Indonesia sudah bermasalah karena pengaruh gelembung ekonomi.

"Jadi ada lima gelembung, yakni Gelembung makro ekonomi, gagal bayar, anjloknya daya beli, kehadiran bisnis digital dan penurunan pendapatan petani. Semua indikator makro merosot lebih jelek dibandingkan 10-15 tahun lalu. Defisit neraca perdagangan, transaksi berjalan, taxation dan sebagainya," ungkap Rizal, saat sesi wawancara usai menyaksikan pameran lukisan tunggal karya Yayak Yatmaka di Galeri AJBS, Surabaya, Selasa (10/3/2020).

Rizal mengungkapkan, ini saat semua indikator makro merosot, dan harusnya mata uang rupiah melemah. Namun hal tersebut tidak terjadi karena adanya penyokogan utang pemerintah dari luar negeri yang tentunya dengan bunga lebih mahal.

"Untuk menopang rupiah menguat sedikit, tapi itu dopping. Bisa saja jadi dia dopping pertama menang tapi dopping ketiga biasanya jantungnya nggak kuat. Sehingga tidak bisa didopping terus menerus. Ekonomi juga seperti itu," ujarnya.

Menurutnya, gelembung daya beli merosot tajam menyebabkan penjualan juga ikut anjlok, sebab tahun lalu pertumbuhan kredit hanya di angka 6,02 persen. Apabila kondisi ekonomi di batas normal, maka angka ekonomi tumbuh 6,5 persen dan pertumbuhan kredit bisa mencapai 15-18 persen. Angka 6,02 persen tersebut hanya sepertiga dari target seharusnya. Sehingga mempengaruhi daya jual dan daya beli masyarakat bawah.

"Ini cuma 6,02 persen atau sepertiganya. Tidak aneh di bawah uang susah sekali dan penjualan anjlok banget karena uang yang beredar sedikit karena kesedot untuk bayar utang," kata Rizal.

Ia menjelaskan, setiap menteri keuangan menerbitkan Surat Utang Negara (SUN), sepertiga dari dana di bank tersedot untuk membeli SUN. Pasalnya, SUN mampu menjamin defisit anggaran dan menggairahkan iklim investasi meskipun bunganya dua persen lebih mahal dari deposito.

Selanjutnya yakni gagal bayar kasus Jiwasraya. Total gagal bayar menembus Rp 33 triliun, tetapi Rizal  memperkirakan akan ada gagal bayar reksadana, dana pensiun, dan lainnya dengan nilai total Rp 150 triliun atau US$ 100 miliar.

"Gelembung berikutnya adalah gelembung digital yang mengalami koreksi evaluasi. Gelembung digital menurut saya sudah terlalu besar dan kemungkinan akan mengalami koreksi sekitar 40-50 persen," tutur Rizal.

Terakhir, gelembung pendapatan petani. Tertundanya waktu tanam petani karena pengaruh musim kering pada September 2019 lalu, membuat mereka baru bisa memulai masa tanam pada Januari ini. Otomatis musim panen baru akan terjadi pada Mei atau Juni mendatang.

Akan tetapi di saat musim panen, Rizal Ramli memprediksi Bulog bakal menolak beras dari petani. Pertama, karena krisis keuangan mengingat kerugian Bulog mencapai Rp 30 triliun. Kedua, Bulog masih menyimpan stok impor 1,7 juta ton.

Dirinya mengatakan, kelima gelembung tersebut akan terjadi pada saat bersamaan, sehingga kuartal kedua menjelang lebaran bisa terjadi krisis di Indonesia dan berimbas pada peta politik.

"Jadi perubahan yang besar di Indonesia selalu terkait atau dimulai karena adanya krisis ekonomi. Banyak yang nggak percaya. Bisa terjadi perubahan politik di Indonesia. Bukan karena ada oposisi yang hebat tapi memang krisis itu sendiri menciptakan momentum perubahan," ucap Rizal.

Kendati demikian, tahun 2020 ekonomi Indonesia tanpa Corona diprediksi bakal rontok hingga ke angka 4 persen. Dengan kehadiran Corona prediksi perlambatan laju ekonomi malah semakin parah. Rizal berpendapat bahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot di angka 3 persen. Sinyal tersebut, tambah Rizal, sudah mulai terjadi secara perlahan.

"Ini kan the beginning sebetulnya kami udah ingetin dari dua tahun yang lalu dari masalah sampai solusi. Sebetulnya kami kasih early warning system namun tak dihiraukan sehingga gelembungnya makin besar," tutup Rizal.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar