Pengusaha Tekstil Mulai Waspada Kala Melemahnya Rupiah


JAKARTA-SUREPLUS: Pengusaha Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mulai menunjukkan sinyal waspada pada pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Sektor ini, memang banyak mengekspor produk jadi, namun tak sedikit bahan bakunya yang harus diimpor sehingga rentan dang kurs.

Disamping kurs, persoalan harga energi menjadi bagi beban untuk industri TPT. Pemerintah sebelumnya berjanji akan menjual batas tertinggi harga gas industri mulai 1 April 2020, hanya seharga 6 dolar per mmbtu.

"Dari sektor energi, kami harapkan ada percepatan penurunan harga gas ke 6 dolar per MMBTU mulai April 2020," ungkap Ketua Umum API Jemmy Kartiwa, saat jumpa pers online di Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Jemmy mengungkapkan, sekarang ini sektor tekstil sudah menurun secara perlahan. Satu hal yang pasti, adalah wabah corona (COVID-19). Keringanan dari beragam lini diharapkan bisa memberikan angin segar bagi industri ini.

"Tren perbaikan tersebut berbalik drastis dalam 10 hari terakhir. Permintaan menurun dengan sangat tajam. Ditambah sejumlah komitmen permintaan berjalan ditunda, bahkan dibatalkan," ujarnya.

Menurutnya, fenomena yang terjadi serentak dan dalam skala besar ini akan memberi dampak yang tidak menggembirakan terhadap utilisasi industri secara ekstrim. Selain itu secara simultan akan berdampak pada produktivitas dan siklus ekonomi TPT (Tekstil dan Produk Tekstil).

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menekankan sentimen lain selain harga gas, yakni kurs rupiah terhadap dolar.

"Paling penting adalah kurs. Kalau harganya 6 dolar tapi kurs yang terus terusan tidak bisa diprediksi, jadi masalah. Jadi, kita minta kemarin diskusi dengan teman-teman asosiasi, kita minta menggunakan kurs lama. Kalau sekarang Rp 16 ribu, tentu sangat keberatan. Kami minta kurs disesuaikan dengan kurs lama," kata Redma.

Kendati demikian, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di perdagangan pasar spot hari ini, kembali menembus level Rp 16.000/US$. Pada Senin (23/3/2020), US$ 1 dibanderol Rp 16.550/US$ di pasar spot.

"Rupiah melemah 4,09% dibandingkan dengan penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Hari ini di BCA, pukul 10.34 WIB kurs transfer melalui m-BCA, harga jualnya sudah mendekati Rp 17.000. Kurs USD Beli yaitu Rp 16.690, Jual yakni Rp 16.910," tutup Redma.[DEWID/DM]




Posting Komentar

0 Komentar