MTI Jawa Timur Minta BBM Turun Menyusul Harga Minyak Dunia

SURABAYA-SUREPLUS: Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)  Jawa Timur, mendesak pemerintah untuk segera menurunkan harga BBM subsidi dan nonsubsidi. Menurut mereka, harga BBM semestinya disesuaikan dengan minyak mentah dunia yang turun kisaran 30 dolar AS per barrel.

"Seharusnya harga BBM disejajarkan dengan harga minyak mentah dunia,” ungkap Ketua MTI Jawa Timur, Bambang Haryo Soekartono melalui keterangan resminya, Jumat (20/3/2020).

Bambang mengungkapkan, negara lainnya langsung menyesuaikan harga BBM sesuai tarif minyak mentah dunia. Negara di Eropa biasanya menyerahkan harga BBM sesuai mekanisme pasar. Menurutnya, penurunan harga BBM sangat membantu seluruh pengusaha sektor jasa transportasi. Pertumbuhan industri transportasi merupakan stimulus positif perekonomian makro Indonesia.

"Di masa ketidakpastian kondisi ekonomi seperti sekarang ini akibat Covid-19, harga energi yang murah dapat menjadi stimulus bagi sektor riil supaya ekonomi bergerak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama ini pemerintah masih belum transparan terkait proses penetapan harga BBM tanah air. Setiap tahun, harganya pun terus meningkat. Selai itu, ia berdalih bahwa pemerintah juga terkesan menekankan penggunaan solar jenis B30, yang belum teruji kualitasnya. Solar ini merupakan jenis BBM penggabungan minyak mentah dengan minyak kelapa sawit.

Solar B30 belum teruji penggunaannya bagi mesin industri. Peralatan mesin menjadi rentan kerusakan viskositas, slag, nozel dan filter injector mesin. Kasusnya seperti kerusakan mesin KMP Senopati Nusantara saat berlayar di tengah laut.

"Mengancam stabilitas kapal dan bisa tenggelam,” kata Bambang .

Dirinya juga menolak pemanfaatan solar B30 untuk jasa transportasi. Ia khawatir penggunaan B30 berdampak negatif kualitas jasa transportasi publik dan logistik. Apalagi kebijakan ini menguntungkan segelintir pengusaha. Pemerintah hanya mensubsidi 19 perusahaan sawit  penyokong produksi solar B30.

"Subsidi diberikan sebesar Rp 10,3 triliun. Subsidi semestinya diberikan industri transportasi yang sering menerima kerusakan mesin,” tutup Bambang.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar