Menteri Dalam Negeri Paparkan Strategi Krisis Ekonomi Akibat Corona

[caption id="attachment_16403" align="aligncenter" width="640"] Menteri dalam negeri, Tito Karnavian saat memberikan sambutan pada acara percepatan pembangunan di regional I, di Ballroom Shangri La Hotel, Surabaya.[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Wabah virus corona memaksa Indonesia menghadapi gelombang baru ekonomi lantaran ekspor dan impor terutama tujuan Tiongkok menurun dengan sangat drastis. Menghadapi gelombang ekonomi tersebut, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengusulkan dua strategi yakni strategi ideal dan minimal.

"Saat ini Amerika Serikat dan China sedang perang dagang. Mereka bersaing untuk menjatuhkan ekonomi karena ingin mendominasi ekonomi di dunia. Hukum rimba, siapa yang kuat itu yang menang. Berusaha saling menungguli ekonominya," ungkap Tito, dalam sambutan pada acara percepatan pembangunan di regional I, di Ballroom Shangri La Hotel, Surabaya, Jumat (6/3/2020).

Tito mengungkapkan, Kepanikan yang terjadi di Tiongkok karena wabah corona membuat banyak pabrik melakukan pemangkasan jumlah pekerja, serta produksi sehingga juga berimbas menurunnya impor dan ekspor negara tersebut.

"Negara-negara yang memiliki hubungan ekspor dan impor dengan China, termasuk Indonesia secara otomatis berimbas," ujarnya.

Menurutnya, negara Indonesia memiliki hubungan dagang yang cukup tinggi dengan Tiongkok dalam bidang impor dan ekspor. Karena itulah, dengan situasi seperti saat ini tentunya negara butuh strategi, pangsa pasar ekspor dan impor baru. Lanjutnya, di tengah-tengah situasi seperti saat ini, Indonesia harus memiliki strategi yang kuat yaitu minimal dan ideal.

"Strategi ideal,  kira-kira kami (Indonesia) butuh anggaran sekian untuk eksplosif program pusat dan daerah," kata Tito.

Sementara itu, skenario minimal merupakan upaya untuk bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah dan memenuhi target, seperti menurunkan kemiskinan, pengangguran, menaikkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

"Untuk keberhasilan pembangunan maka butuh (dana) sekian. Itu namanya skenario minimal. Sambil kita berdoa agar negara kita kuat dan memiliki ketahanan ekonomi yang tangguh dalam menghadapi tekanan ekonomi," tutur Tito.

Kendati demikian, ia menjelaskan dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat dampak virus corona, tidak hanya beban pemerintah pusat, tapi juga pemerintah daerah. Tito meminta agar pemerintah daerah juga harus berfikir sehingga tidak hanya membuka tangan untuk menerima bantuan pusat.

"Daerah harus mampu berwirausaha dengan menggali potensi di daerahnya masing-masing. Membangun jurus silat untuk mendapatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Ini harus betul-betul harus dipahami," tutup Tirto.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar