Indonesia Harus Siap Kembali Hadapi Potensi Gelombang Krisis Keuangan Global



[caption id="attachment_10524" align="aligncenter" width="800"] Menteri Keuangan Sri Mulyani[/caption]

JAKARTA-SUREPLUS: Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengklaim kondisi perekonomian global berpotensi saat ini harus lebih dicermati. Hal ini, lantaran perekonomian dihadapkan pada pelemahan pertumbuhan, yang bersamaan dengan penyebaran virus corona yang terjadi dengan begitu cepat.

"Pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini diperkirakan melambat menjadi sekitar 2,8 persen. Sama seperti kondisi yang terjadi di kisaran tahun 2008-2009 lalu ketika dunia dihadapkan pada krisis keuangan global," ungkap Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Sri Mulyani mengungkapkan, memburuknya kondisi ekonomi global akan berpengaruh pada ekonomi Indonesia. Pemerintah pun melakukan bauran kebijakan bersama dengan otoritas moneter, yaitu Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan dan pelaku usaha di sektor riil agar bisa terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Menurutnya, APBN, APBD dan APBDes merupakan instrumen yang saat ini masih digunakan  dalam menjaga perekonomian negara. Selain perekonomian, ia juga menjelaskan seputar 5 prioritas penting, yakni pembangunan SDM, pembangunan infrastruktur, transformasi ekonomi, perbaikan regulasi dan simplifikasi birokrasi.

"Kami belum tahu, dari Kementerian Kesehatan, mengenai skema untuk penanganan dan kebutuhan dananya. Jadi yang terjadi seperti waktu SARS, maka ini tergantung dari Kementerian Kesehatan, terhadap penggunaan anggaran menangani virus ini atau prioritas ini. Dan nanti kalau mereka ada kebutuhan dana pasti akan disampaikan," ujarnya.

Senada dengan Sri Mulyani, Staf Ahli Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional Kementerian Keuangan, Suminto menjelaskan dampak virus corona saat ini sudah menjadi perhatian negara yang tergabung dalam G20. Pasalnya, virus asal China ini berpotensi akan mengganggu pertumbuhan ekonomi secara global.

"Virus corona menjadi perhatian seluruh anggota G20. Karena dampak terhadap ekonomi berpengaruh besar," kata Suminto.

Pada pertemuan G20 di Arab Saudi beberapa waktu lalu, semua anggota G20 telah membahas berbagai isu global. Salah satunya yakni dampak virus corona terhadap ekonomi global. Sedangkan pertumbuhan ekonomi global pada 2019 sendiri tumbuh sebesar 2,9 persen di tengah kondisi perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Diharapkan pertumbuhan di 2020 lebih membaik dibandingkan tahun sebelumnya, ekonomi global pun di patok hingga 3,3 persen.

Kendati demikian, adanya virus corona yang muncul di 2020 menjadi ancaman bagi negara-negara G20. Kekhawatiran itu kemudian membuat beberapa negara menerpakan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi tekanan terhadap dampak pertumbuhan masing-masing negara.

"Tantangan global memerlukan solusi global. Termasuk misalnya corona virus sudah menyebar secara global, dan membutuhkan masukan global," pungkas Suminto.[DEWID/DM]

Editor:Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar