DPRD Surabaya: Tangkal Goncangan Ekonomi Global Dengan Ekonomi Mikro dan Kreatif

[caption id="attachment_16400" align="aligncenter" width="640"] Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya, Jhon Thamrun saat sesi wawancara di Gedung DPRD Surabaya[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Kota Surabaya menyatakan bahwa peningkatan ekonomi mikro dan kreatif sangat berpotensi melawan turbulensi ekonomi global akibat virus corona. Dalam hal ini, ia mendesak Pemkot Surabaya agar lebih menggalakkan ekonomi kreatif dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

“Ditengah kondisi virus korona saat ini, kita harus mengandalkan produk-produk dalam negeri dengan cara melakukan pengembangan ekonomi kreatif,” ungkap anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya, Jhon Thamrun saat sesi wawancara di Gedung DPRD Surabaya, Kamis (5/3/2020).

Jhon mengungkapkan, jika ekonomi kreatif di Surabaya berkembang pesat maka ketahanan ekonomi kerakyatan akan dapat berjalan kondusif. Hal tersebut akan berujung pada naiknya sektor pariwisata. Jika kedua sektor ini meningkat, tentunya akan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya.

Menurutnya, selama ini Pemkot Surabaya belum menyentuh sektor ekonomi mikro dan kreatif, seperti pengembangan ekonomi di beberapa kampung. Meski ada, pengembangan ekonomi hanya sebesar 10 persen, sedangkan pengembangan ekonomi yang dilakukan Pemkot Surabaya lebih kepada ekonomi makro dan pebisnis-pebisnis besar saja.

“UMKM di Surabaya ini harus lebih digenjot lagi, dengan melibatkan warga di kampung-kampung agar menjadi sebuah kekuatan ekonomi kerakyatan. Ini yang belum dilakukan oleh Pemkot Surabaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam situasi ini agar roda perekonomian di Surabaya tetap kondusif, salah satu solusinya adalah pengembangan ekonomi kreatif dan ekonomi kerakyata. Dirinya mencontohkan, baru saja kemarin pemerintah mengumumkan dua WNI positif Corona, saham di lantai bursa menjelang penutupan perdagangan sesi pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok.

"Ini merupakan indikator jika ekonomi makro tidak tahan dalam setiap isu-isu sensitif yang terjadi didalam negeri. Sementara ekonomi mikro saat ini tetap kondusif, mirip era 1997 dimana krisis ekonomi merontokkan pengusaha-pengusaha besar, sementara usaha kecil dan menengah tetap berjaya,” kata Jhon.

Sementara, kota Surabaya yang seharusnya ketika wisatawan berkunjung ke Surabaya, tidak hanya ditunjukkan Tugu Pahlawan saja, melainkan ada tetenger Mayangkara yang harus diketahui dimana markas Mayangkara.

Kendati demikian, destinasi wisata kepahlawanan dibutuhkan kreatifitas warga yang ada di kampung-kampung, dan karena Surabaya dikenal juga sebagai kota kuliner, maka pengembangan ekonomi warga harus lebih ditingkatkan lagi.

"Tidak sekedar ada kampung lontong, tapi harus diciptakan kampung-kampung lainnya yang lebih kreatif. Ini semua butuh sentuhan intensif dari Pemkot Surabaya,” tutup Jhon.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar