Bumerang Antarkan Seorang Atlet Menjadi Pengusaha Sukses di Surabaya

[caption id="attachment_16348" align="aligncenter" width="738"] Harry Gunawan, seorang pebisnis alat olahraga bumerang saat menata koleksi dagangannya.[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Harry Gunawan, seorang Atlet bumerang pada Tahun 2011 yang tergabung dalam Asosiasi Bumerang Indonesia (ABI) melejitkan karirnya dalam dunia usaha. Sosok pria dengan usia genap 50 tahun itu kini berfokus mendesain dan merakit alat olahraga bumerang, yang dikenal sebagai senjata Suku Aborighin.

"Jadi dulu pas 2 tahun setelah karir saya sebagai atlit, lebih tepatnya di tahun 2013 saya mulai memproduksi alat olahraga bumerang. Puji syukur saat ini sudah banyak peminatan dan permintaan dari masyarakat, khususnya kalangan atlet olahraga, komunitas, hingga kolektor” ungkap Harry, saat ditemui reporter Sureplus.id di kediamannya di kecamatan Wonokromo, Surabaya, Minggu (30/2/2020).

Harry mengungkapkan, pada awalnya ia mempelajari dan memahami cara kerja bumerang saat dirinya masih menjadi atlit. Harry pun semakin yakin untuk menapaki langkahnya sebagai seorang bussiness man, dengan mencoba memproduksi bumerang karyanya sendiri.

Menurutnya, banyak model bumerang yang hingga saat ini ia kreasikan. Diantaranya adalah model tradisional hingga modern dengan menggunakan bahan pilihan, seperti kayu, plastik, komposit, dan fiber carbon.

“Khusus model tradisional seperti huruf V dengan bahan kayu, dan bumerang modern bentuknya sudah beragam mulai dari ujung lancip, bergerigi dan lebar dengan material plastik, fiber carbon atau composite,” ujarnya.

Dalam sehari, Harry mampu memproduksi 20 alat bumerang yang pemesanan mayoritasnha adalah bumerang modern. Mulai dari tahap pemotongan hingga finishing. Selama proses pembuatan alat bumerang, dirinya menggunakan jenis natural elbow yang pada bahan seperti kayu lokal tidak dilakukan pembentukan apapun.

“Kayunya bisa macam-macam, seperti kayu rambutan, mahoni dan asoka, kemuning, sawi dan jati, guava. Selama kayunya padat dan ringan untuk digunakan sebagai material bumerang,” kata Harry.

Usai pemilihan bahan-bahan, ia melanjutkan pada tahap pengeringan selama dua jam menggunakan oven, atau pengeringan secara alami selama tiga hari. Kemudian dilanjutkan dengan pembelahan kayu yang diratakan atau thickness, untuk pembentukan air foil pada tepi bumerang.

Pada tahapan perampungan atau finishing, ia mulai dari mengecat dengan menggunakan teknik lukis atau air brush, atau di cat secara polosan dengan penggunaan cat anti gores. Setelah itu, ia melakukan uji coba bumerang yakni dengan diterbangkan sebagai penentu bumerang akan dipakai untuk pemula atau berkompetisi.

Harry juga memiliki ciri khas tersendiri, yakni memberikan nama bumerang hasil produksinya dengan sebutan nama-nama wayang. Namun, untuk bumerang dengan model yang identik dengan perempuan diberikan nama-nama bunga.

Saat ditanya mengenai harga per produk, ia menjelaskan tiap bumerang harganya ada yang mulai Rp 25 ribu hingga Rp 300 ribu. Ia juga menjelaskan, karya bumerang produksinya tak hanya dipasarkan dalam Indonesia, tetapi juga Mancanegara seperti Brazil, Lebanon, Perancis, dan Malaysia.

Kendati demikian, ia saat ini juga masih menghadapi anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa bumerang adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

"Di Indonesia, Bumerang dianggap sebagai senjata yang berbahaya. Padahal ini merupakan alat olahraga yang membutuhkan teknik permainan dan pembuatannya. Untuk itu saya mencoba perkenalkan pelan pelan dulu ke masyarakat,” tutup Harry.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar