BPJS Siap Alokasikan Rp 6-8 Triliun untuk Borong Saham Tahun Ini


SURABAYA-SUREPLUS: Bursa saham domestik telah mencapai tekanan yang signifikan dalam tahun ini, secara year to date Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah terkoreksi 25,54%. Dampak dari wabah virus corona atau Covid-19 ditakutkan menerjunkan ekonomi global ke dalam resesi.

Tekanan dalam IHSG untuk lembaga keuangan pengelola dana nasabah, seperti dana pensiun dinilai sebagai peluang untuk membeli saham-saham yang dengan valuasi relatif murah. Pengelola dana pensiun terbesar di Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan menyatakan akan mengalokasikan Rp 6 triliun hingga Rp 8 triliun untuk diinvestasikan di instrumen saham pada tahun ini.

"Di tengah kondisi pasar saham yang sekarang terkoreksi, justru menjadi momentum yang tepat bagi BPJS beserta Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) dan Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) masuk ke pasar saham," ungkap Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto  saat di sela acara Pembukaan Perdagangan BEI oleh Investor Pengelola Dana Publik di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (19/3/2020).

Agus mengungkapkan, momen seperti ini dapat dimanfaatkan untuk membeli barang berkualitas bagus dengan harga yang murah. Namun tentunya tetap memastikan terlebih dahulu kondisi fundamental dari emiten. Terhitung sejak periode Januari hingga Februari 2020, BPJS sudah melakukan transaksi Rp 20 triliun, dengan rincian Rp 10 triliun beli dan Rp 10 triliun jual.

Menurutnya, hingga Desember 2019 BPJS Ketenagakerjaan mencatat dana kelolaan mencapai Rp 431,6 triliun. Dana kelolaan tersebut dialokasikan pada instrumen fixed income (Deposito dan Surat Utang ) 71,4%, Saham 19,09%, Reksadana 9.34%, dan sisanya pada investasi langsung (properti dan penyertaan).

"Instrumen saham, merupakan salah satu instrumen investasi yang bertujuan untuk mendapatkan return yang optimal dalam jangka panjang. Saat ini kepemilikan saham BPJS Ketenagakerjaan mayoritas merupakan saham kategori blue chip pada Index LQ45 dan mayoritas juga merupakan saham-saham BUMN," ujarnya.

Sementara itu, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) serta Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) mengajak anggotanya untuk masuk ke instrumen saham sebagai instrumen jangka panjang.

Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri mengatakan, momentum saat ini menjadi waktu yang tepat bagi pengelola dapen masuk ke bursa. Dengan valuasi yang murah, pengelola dapen bisa membeli saham-saham di indeks LQ45 dengan 'harga diskon'.

"Walaupun masih ada kemungkinan down side trend terjadi. Namun, keyakinan kita adalah kondisi saat ini akan segera teratasi. Untuk memilih saham-saham yang bagus untuk dikoleksi dan harapannya ke depannya akan membaik," tutup Suheri.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar