Sejumlah Pedagang Bahan Sembako Surabaya Keluhkan Kenaikan Harga Gula

SURABAYA-SUREPLUS: Harga gula di kota Surabaya diketahui telah merangkak naik dalam beberapa hari terakhir ini. Harga yang awalnya hanya Rp 12.500/ kg, kini menjadi Rp 14 ribu/kg. Hal ini berarti kenaikan mencapai kurang lebih 10 persen dari harga sebelumnya.

Banyak dari pedagang di toko sembako yang mengeluhkan kenaikan ini, bahkan menyetop kulak gula untuk sementara. Salah satunya adalah Eni, pemilik toko sembako di Surabaya yang mengaku naiknya harga gula ini sangat berimbas pada usahanya.

“Harganya sekarang di tempat saya ada sampai Rp 14.500. Sekarang pun belum ada kabar sampai kapannya harga gula kembali normal,” ungkap Eni, saat diwawancarai reporter Sureplus.id di kawasan Ngagel, Surabaya, Selasa (17/3/2020).

Tidak hanya itu, seorang pedagang bahan pokok di derah dukuh pakis juga menyatakan ia menyetop kulak gula, hingga harga gula mengalami sedikit penurunan. Ia berdalih rugi, lantaran ia harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk sekilo gula dibandingkan bahan pokok lainnya.

“Untuk saat ini saya stop dulu. Daripada saya ngorbanin jualan saya yang lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Surabaya Wiwiek Widayati menyatakan situasi kenaikan gula terjadi di sejumlah daerah, khususnya Surabaya. Bahkan pihaknya hari ini melakukan operasi pasar, terkait dengan ritel-ritel yang hari ini kekosongan stok gula.

“Untuk operasi pasar kami memang membatasi, karena penduduknya banyak dan butuh gula. Jadi kami operasi pasar, kami sediakan 1 kg untuk satu orang atau satu KK,” kata Wiwiek.

Apabila nantinya Surabaya kehabisan stok gula, pemkot telah mencoba berkomunikasi dengan distributor gula. “Distributor stoknya juga saya nggak tahu, mungkin stoknya terbatas. Itu sebenarnya bukan kosong, ada cuman terbatas,” jelasnya.

Kendati demikian, Wiwiek mengatakan stok gula tidak akan hilang sama sekali. Pasalnya, pemerintah sudah melakukan segala upaya. Salah satunya, yakni mengeluarkan surat perintah import.

“Nah memang import gula rafinasi, gula rafinasi itu yang harus diolah lagi untuk menjadi gula untuk bisa dikonsumsi. Sekarang sedang proses untuk memproses gula-gula biar segera untuk dikonsumsi,” tutup Wiwiek.[DEWID/DM]