Jawa Timur Kembali Alami Inflasi 0,30 Persen Pada Februari 2020

SURABAYA-SUREPLUS: Di bulan Februari 2020, inflasi terjadi lagi di daerah Jawa Timur dengan besaran yakni 0,30 persen. Kepala BPS Jawa Timur, Dadang Hardiwan menyatakan berdasarkan data yang dipereh, Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran.

“Kenaikan terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,03 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,04 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,06 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,30 persen,” ungkap Dadang, saat dikonfirmasi reporter Sureplus.id di Gedung BPS Jatim, Senin (9/3/2020).

Tidak hanya itu, kelompok lain yang mengalami deflasi adalah transportasi sebesar 0,01 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,09 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,65 persen.

Dadang mengungkapkan, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Februari 2020 diantaranya adalah bawang putih, cabai merah, daging ayam ras, emas perhiasan, angkutan udara, melon, beras, sepeda motor, semangka, dan telur ayam ras.

“Bulan kemarin dari sebelas kelompok pengeluaran, delapan kelompok memberikan andil/sumbangan inflasi, dua kelompok memberikan andil/sumbangan deflasi, dan satu kelompok tidak mengalami perubahan,” ujarnya.

Menurutnya, kelompok yang mengalami deflasi yaitu kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,07 persen dan kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,02 persen. Sementara itu kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan.

Kendati demikian, penghitungan angka inflasi di delapan kota IHK di Jawa Timur selama Februari 2020, seluruh kota mengalami inflasi.

“Inflasi tertinggi terjadi di Jember, yakni sampai angka 0,51 persen, diikuti Probolinggo sebesar 0,39 persen, Madiun dan Kediri sebesar 0,38 persen, Surabaya sebesar 0,32 persen, Malang sebesar 0,28 persen, Sumenep sebesar 0,16 persen, dan Banyuwangi sebesar 0,10 persen,” tutup Dadang.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana