PGN Jalankan Ekspansi Pembangunan Infrastruktur Gas Bumi

[caption id="attachment_16091" align="aligncenter" width="706"] Lokasi kilang gas bumi yang tersebar di beberapa daerah Indonesia.[/caption]

JAKARTA-SUREPLUS: PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yakin fundamental perusahaan akan berada di level aman, mana kala saat ini kondisi bisnis sangat dinamis dewasa. Di tahun 2020 ini, PGN berencana membangun berbagai infrastruktur, termasuk jaringan pipa transmisi dan distribusi, sepanjang lebih dari 450 km di beberapa sentra ekonomi baru di Sumatera dan Jawa.

Direktur Utama PGN, Gigih Prakoso menjelaskan bahwa PGN selalu mengusahakan pengoptimalan infrastruktur gas eksisting, serta membangun infrastruktur baru untuk dapat melayani sebanyak mungkin pelanggan, baik rumah tangga, UMKM, korporasi, transportasi, kelistrikan dan BUMN lainnya.

“Cara ini merupakan strategi PGN demi mempertahankan serta meningkatkan fundamental bisnis agar tumbuh berkelanjutan dalam jangka panjang. Terlebih lagi mayoritas cadangan migas di dalam negeri didominasi oleh gas bumi,” ungkap Gigih Prakoso di Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Gigih mengungkapkan, saat ini PGN telah membangun dan mengelola lebih dari 10 ribu km jaringan pipa distribusi dan tranmisi gas nasional. Jumlah itu setara dengan 96 persen infrastruktur gas bumi di Indonesia. Sampai akhir tahun 2019, PGN telah menyalurkan gas bumi melalui jaringan distribusi sebanyak 988 BBTUD dan transmisi sebesar 2.045 MMSCFD.

Menurutnya, dinamika harga gas yang kini berkembang merupakan salah satu tantangan bagi bisnis PGN. “Sebagai bagian dari BUMN migas dan aset nasional, kami berkeyakinan bahwa pemerintah akan mengambil solusi terbaik untuk memastikan pembangunan infrastruktur gas bumi dapat terus meluas ke berbagai sumber pertumbuhan ekonomi di wilayah baru,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa gas bumi terbukti menjadi sumber energi, yang mampu memberikan efek berganda sangat besar ke berbagai sektor pelanggan. Tingkat efisiensi yang dihasilkan gas bumi juga mendorong daya saing ekonomi nasional menjadi lebih baik.

Di sektor kelistrikan, penggunaan gas bumi pada pembangkit listrik mampu menghemat biaya energi sebesar Rp 23 triliun ketimbang memakai BBM. Berkat efisiensi sumber energi ini, tarif listrik kepada masyarakat dan sektor usaha juga semakin kompetitif.

Sementara itu, sekretaris perusahaan PGN Rachmat Hutama menyatakan soal rencana penyesuaian harga gas untuk sektor industri tertentu sebesar USD 6, PGN akan menggandeng stakeholder kementerian terkait. Sedangkan untuk mengkaji efek penyesuaian harga gas terhadap aspek komersial bisnis, kinerja perseroan, keberlanjutan bisnis gas bumi, pengembangan infrastruktur dan menjalankan penugasan pemerintah.

“Persentasi ekonomi dan infrastruktur gas bumi di setiap daerah tentu saja berbeda-beda, lantaran sumber gas dan harganya juga berlainan. Karena itulah penetapan harga gas juga harus dapat memastikan bahwa pembangunan infrastruktur dapat terus dilakukan mengingat masih banyak rumah tangga, UMKM, transportasi dan sektor industri yang belum terjangkau gas bumi,” kata Rachmat.

Kendati demikian, ia mengklaim pembangunan berbagai infrastruktur gas bumi juga mendukung penggunaan material hasil produksi industri dalam negeri sebesar Rp 22 triliun. "Efek berganda ke berbagai sektor ekonomi inilah yang menjadi salah satu komitmen PGN untuk terus membangun infrastruktur gas bumi,” tutup Rachmat.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar