Kisah Perjalanan Staf Khusus Presiden Dalam Meniti Karir Bisnis

[caption id="attachment_16038" align="aligncenter" width="800"] Billy Mambrasar, staf khusus Presiden RI pendiri yayasan Kitong Bisa di Papua, yang sebelumnya menerapkan bisnis enterpreuner sosialis dalam hidupnya.[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menggelar menggelar Kuliah Umum yang bertemakan Kitong Bisa Bisnis!, dalam rangka menjawab perkembangan, peluang, dan tantangan bisnis baru, terutama dalam bidang ekonomi kreatif yang semakin bertumbuh.

Berlokasi di Auditorium Benedictus Kampus UKWMS Dinoyo, pembicara yang hadir pada kuliah umum kali ini yakni Gracia Billy Mambrasar, yang merupakan salah satu dari tujuh orang Staf Khusus Presiden Republik Indonesia. Sebelum menjadi staf khusus, ia adalah seorang wirausahawan sosial pendiri yayasan Kitong Bisa, dan berfokus pada pendidikan anak-anak di Papua.

"Untuk memulai bisnis, perlu tahu bedanya dari yayasan, perusahaan yang fungsinya untuk meraih untung dan social enterprise. Social entrepreneurship adalah sebuah pergerakan bukan hanya untuk menciptakan profit, tetapi juga memberikan dampak,“ ungkap Billy, saat memberikan pemaparan kuliah umum di Kampus UKWMS, Sabtu (1/2/2020).

Billy mengungkapkan, sebelum mendirikan yayasan ia sempat menuntaskan pendidikan Sarjananya. Kemudian, ia berprofesi sebagai insinyur disebuah perusahaan minyak. Setelah satu tahun bekerja, dirinya merasa hidup dalam kekosongan.

Pada saat itulah ketika teman-teman yang lain menabung hasil kerja untuk jalan-jalan, dirinya memutuskan menabung untuk membuat kelas kecil khusus anak-anak belajar dan bermain.

"Awalnya hanya lima orang lalu berkembang sampai ratusan dan bahkan sampai ke Pulau Jawa,” ujarnya.

Melalui yayasan yang ia dirikan, Billy menetapkan sebuah misi yang mana lahirnya Kitong Bisa. Dalam yayasan tersebut, anak-anak percaya bahwa mereka bisa, dan bebas mau menjadi apapun yang mereka inginkan.

"Sebelum membuat gerakan sosial, seseorang harus merasakan dulu menjadi wirausahawan, susahnya mencari uang sendiri. Dalam proses itulah selalu ada resiko saat keluar dari zona nyaman," kata Billy.

Kendati demikian, dirinya juga pun berpesan kepada para peserta, agar sebagai mahasiswa ikut aktif dalam kegiatan kemahasiswaan,  belajar kepemimpinan, visioner atau melihat jauh kedepan, menjadi pemecah masalah, mencari solusi dan menjadi agen perubahan dari pada marah dan mengeluh di sosial media.

“"Terserah kita mau membuat bisnis yang seperti apa, hanya mencari untung atau wirausahawan sosial, semua tergantung dengan visi kita. Dan ketika sudah punya ide bisnis atau gerakan sosial, segera identifikasi dengan menghubungkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, dan segera eksekusi luncurkan ke masyarakat," tutup Billy.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar