Khusus Dividen, Bank Mandiri Sebar 60 Persen Laba Bersih Tahun 2019

[caption id="attachment_16255" align="aligncenter" width="600"] RUPST Bank Mandiri. Dari kiri ke kanan, Komisaris Rionald Silaban, Wadirut Bank Mandiri Hery Gunardi, Komisaris Ardan Adiperdana, Direktur Utama Royke Tumilaar, Komisaris Utama M. Chatib Basri, Direktur Manajemen Risiko Ahmad Siddik Badruddin dan Direktur Treasury, Int. Banking & SAM Darmawan Junaidi sedang berfoto di sela Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (19/2/2020).[/caption]

JAKARTA-SUREPLUS: PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menghelat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), yang mana menyetujui pembagian sebesar 60% dari laba bersih 2019 atau sekitar Rp16,49 triliun sebagai dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham. Nilai tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp11,2 triliun .

"Penetapan besaran dividen itu telah mempertimbangkan kebutuhan likuiditas perseroan dalam mengembangkan bisnis dan memenuhi ketentuan terbaru regulator. Pun juga sebagai bentuk apresiasi perseroan kepada pemegang saham, atas kepercayaan dan dukungannya, sementara sisa 40% dari laba bersih 2019 akan digunakan sebagai laba ditahan." ungkap Direktur Utama Bank Mandiri, Royke Tumilaar saat RUPST berlangsung di Jakarta (21/2/2020).

Royke mengungkapkan, Bank Mandiri membukukan kinerja yang sangat baik pada tahun lalu, yang mana laba bersih Bank Mandiri secara konsolidasi tercatat sebesar Rp27,5 triliun atau tumbuh 9,9% secara tahun ke tahun.

"Pencapaian tersebut didukung oleh pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 10,7% YoY hingga mencapai Rp907,5 triliun pada akhir tahun lalu," ujarnya.

Menurutnya, dari kucuran tersebut perseroan berhasil mencatat pendapatan bunga bersih sebesar Rp59,4 triliun, naik 8,8% YoY dibanding tahun sebelumnya. Alhasil, aset perseroan pun terkerek naik 9,65% menjadi Rp1.318,2 triliun pada akhir tahun lalu.

Seiring keinginan untuk tumbuh secara sehat dan berkelanjutan, Bank Mandiri berhasil memperbaiki kualitas kredit yang disalurkan sehingga rasio NPL gross turun 42bps menjadi 2,33% dibandingkan Desember tahun lalu. Dampaknya, biaya CKPN pun ikut melandai sebesar -14,9% YoY menjadi Rp 12,1 triliun.

"Kami tetap konsisten untuk mengutamakan prinsip pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan dalam ekspansi serta inovasi layanan yang berkelanjutan melalui otomatisasi ataupun digitalisasi, menjadi kunci keberhasilan perseroan dalam melewati tahun 2019 yang diwarnai dengan persaingan ketat industri perbankan serta maraknya usaha pembiayaan berbasis digital," kata Royke.

Kendati demikian, pihak perseroan menyadari tantangan industri perbankan tahun ini akan semakin kompleks, baik dari aspek likuiditas, keberadaan industri teknologi finansial (tekfin) serta ketidakpastian situasi ekonomi global.

"Untuk itu, kami akan terus mewaspadai perkembangan ekonomi terkini dan melakukan inisiatif strategis yang diperlukan berdasarkan pertimbangan efektifitas dan efisiensi," tutup Royke.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar