Ketimpangan Tuntutan Kerja dan Problematika Finansial Sejumlah Kaum Muda di Surabaya



[caption id="attachment_16323" align="aligncenter" width="672"] Ilustrasi. FOTO: ISTIMEWA[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Praktik eksploitasi tenaga kerja muda di Surabaya ternyata masih banyak terjadi di kota Surabaya, khususnya di kalangan perusahaan milik swasta. Beberapa pemuda di Surabaya, saat ditemui reporter Sureplus.id menceritakan kegelisahan mereka dikala minimnya pilihan untuk berpindah kerja.

Fachri (20) contohnya, salah seorang pemuda yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan berjangka. Ia yang saat ini bekerja sebagai telemarketing mengatakan bahwa di perusahaannya, ia tidak mendapatkan gaji pokok namun sistem pembayarannya yakni adalah lima persen dari nasabah yang setuju untuk berinvestasi di perusahaannya, dengan jumlah investasi awal yang telah ditetapkan perusahaan.

"Sudah 1 tahun, closing cuma tiga kali. Itu saja sulit sekali, apalagi kalau nasabahnya sampai ngancam gitu. Tapi saya cuman modal ijazah SMA, dan sering nyebar lamaran juga belum ada yang panggil," ungkap Fachri, saat ditemui reporter Sureplus.id di Delta Plaza, Jumat (28/2/2020).

Selama ini ia mengaku bertahan sampai saat ini pun lantaran bergantung pada kedua orang tuanya. Meskipun ia terkadang mendapat kerja lembur, namun tidak ada peningkatan sepeser pun yang ia terima. Bahkan, teman-temannya saat ini sudah banyak yang menjauhinya karena asumsi buruk akan perusahaan berjangka.

"Terbuka saja, calon nasabah harus stor dengan jumlah Rp 100 juta. Nah kita cuman dapat Rp 5 juta-nya. Tapi mau bagaimana lagi, selain menunggu panggilan kerja lain," ujarnya.

Selain Fachri, seorang teknisi komputer di salah satu universitas swasta di Surabaya, Finia (23) menyatakan ia seringkali mengalami pembayaran yang tidak tepat waktu. Ia pun pernah sekali melayangkan protes, namun pihak kampus mengelak dengan dalih kondisi keuangan saat ini sedang sulit dan dana sedang difokuskan pada penguatan promosi.

"Ya gimana kita bisa terima, kalau seharusnya yang jadi hak kita malah gak kita dapatkan dan sebenarnya kesulitan keuangan bisa di kasi tau minimal dua minggu sebelumnya lah. Ga bijak juga kalau menunda gaji karyawan karena kegagalan pihak lain sementara kita juga dituntut untuk bekerja secara maksimal," kata Finia.

Hal yang senada juga dilontarkan oleh Bachtiar, pekerja salah satu perusahaan makanan di Surabaya yang masih berusia 19 tahun. Ia bercerita, bahwa ia diinstruksikan untuk bekerja selama 9 jam sehari dengan upah sebanyak Rp 1,3 juta.

"Kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Rp 1,3 juta ribu itu sudah sama uang transport dan makan pagi, siang sama malem. Pikiran saya abis lulus SMA tahun lalu langsung aja kerja, ternyata dari sekian banyak saya sebarin lamaran cuman disini saja saya terpilihnya," tutur Bachtiar.

Kendati demikian, ia juga menuturkan bahwa tiap kali ia melakukan kesalahan, gajinya juga akan dikurangi sesuai kesepakatan awal. Namun, ia tidak mempunyai banyak pilihan lantaran kerja ditempat lain juga belum tentu akan me-makmurkan dirinya bersama seorang adik yang ia tanggung lantaran bercerainya orang tua.

"Yah pada akhirnya, saya cuman bisa kerja ini dulu sampai dapat kesempatan atau tawaran untuk kerja di tempat lain meskipun gak meyakimkan juga, tapi setidaknya saya ndak menelantarakan adik saya," tutup Bachtiar.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar