Impor Jatim Turun 1,08 Persen Menyusul Naiknya Ekspor Pada Januari 2020

[caption id="attachment_8791" align="aligncenter" width="800"] Ilustrasi - Kegiatan ekspor impor di Jawa Timur. FOTO: SUREPLUS/DOK[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Menyusul kenaikan ekspor Jawa Timur pada Januari 2020, kini angka impor turun sebesar 1,08 persen. Penurunan terjadi dari 2,05 miliar dolar AS menjadi 2,02 miliar dolar AS, dan masih didominasi oleh sektor nonmigas.

“Pada Januari, impor nonmigas menyumbang 76,13 persen terhadap total impor Januari 2020 ke Jawa Timur,” ungkap Dadang Hardiwan, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, saat dikonfirmasi reporter Sureplus.id di gedung BPS Jatim, Sabtu (22/2/2020).

Dadang mengungkapkan, golongan mesin pesawat mekanik merupakan komoditi utama impor dengan nilai transaksi sebesar 255,30 juta dolar AS. Pada urutan kedua, yakni sisa industri makanan dengan nilai sumbangan impor 119,16 juta dolar AS. Sedangkan yang ketiga, merupakan golongan besi dan baja yang memberikan nilai sumbangan sebesar 112,67 juta dolar AS.

Menurutnya, apabila melihat negara asal barang impor, maka negara Tiongkok terdata sebagai negara asal barang yang masuk Jawa Timur terbanyak selama Januari 2020. Disusul dengan negara berikutnya yakni Amerika Serikat dengan kontribusi sebesar 6,97 persen dan Singapura dengan nilai 4,00 persen.

“Dalam lingkup ASEAN selain Singapura ada juga Malaysia yang berperan sebanyak 3,88 persen, serta negara Thailand dengan peranan sebanyak 3,49 persen,” ujarnya.

Impor Migas Malah Melambung

Meskipun data sektor nonmigas menunjukkan penurunan, impor sektor migas malah mengalami lonjakan yang lebih besar, yakni 6,27 persen dari 454,86 juta dolar menjadi 483, 36 juta dolar AS. Impor migas ini menyumbang 23,87 persen dari total impor Jatim pada Januari 2020.

“Kalau data tahun ke tahun, yaitu dengan Januar 2019 lalu migas juga mengalami peningkatan sebesar 59,89 persen,” kata Dadang.

Kendati demikian, nilai neraca perdagangan Jawa Timur selama bulan Januari 2020 tercatat mengalami defisit. Hal ini, disebabkan karena adanya selisih perdagangan yang negatif pada sektor migas atau nonmigas, sehingga secara agregat menjadi defisit.

“Sektor nonmigas mengalami surplus sebesar 222,77 juta dolar AS, sedangkan migas defisit 449,38 juta dolar AS,” tutup Dadang. (Dewid)

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar