Dewa Batik, Pemberdaya Masyarakat Dengan Seni Batik

[caption id="attachment_16124" align="aligncenter" width="1080"] Dedy Wahyu Hernanda, pemilik dari usaha bernama Dewa Batik. Ia tergerak untuk memberdayakan ibu-ibu di Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, dengan memproduksi penutup kepala pria khas suku Using yakni udeng.[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Dalam berbisnis, ada dua tipikal orang-orang didalamnya. Pertama adalah orang yang mengejar keuntungan, sedangkan yang kedua adalah untuk membantu masyarakat. Seperti yang ditunjukkan Dedy Wahyu Hernanda, pemilik dari usaha bernama Dewa Batik. Ia tergerak untuk memberdayakan ibu-ibu di Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, dengan memproduksi penutup kepala pria khas suku Using yakni udeng.

Dedy mengisahkan, pada awalnya ia hanya mendirikan usaha kecil-kecilan pada 2018 akhir, lantaran terinspirasi banyaknya orang yang tidak mau ribet menggunakan udeng secara manual (berupa kain/lakaran).

"Dari sanalah saya ingin membuat udeng siap pakai ini, karena sudah banyak orang tidak mau riweh menggunakan udeng secara manual, jadi udeng ini lebih praktis, dan lebih cocok dengan semua kalangan," ungkap Dedy saat dikonfirmasi via ponsel.

Ia mengungkapkan, memang pada mulanya usaha ini hanya sebatas hobi. Namun melihat pesanan begitu melimpah, ia pun mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya. Mereka adalah ibu rumah tangga dan dapat menjadi penghasilan tambahan.

"Dalam kebudayaan masyarakat adat suku Using Banyuwangi, Udeng sendiri memiliki tiga klasifikasi, yakni Udeng Tongkosan (usia sepuh), Udeng Sampatan Malik (usia menikah), dan Udeng Sampatan Jejeg (usia remaja)," ujarnya.

Menurutnya, untuk membuat sebuah udeng tidak asal melipat maupun menyusun begitu saja, melainkan perlu ada perlakuan khusus secara perasaan batin dalam proses pembuatannya.

"Untuk udeng ini buatnya harus menggunakan perasaan, jadi moodnya harus bagus. Kalau dipaksa buat atau dadakan pasti hasilnya tidak maksimal, jadi harus mengalir dengan perasaan yang baik. Dan itu tidak semua orang bisa membuatnya," kata Dedy.

Ia menjelaskan, rata-rata pembuatan udeng 1 hari sudah jadi, itu kalau suasama hati sedang bagus, kalau moodnya jelek 2 sampai 3 hari. Ia memasang harga mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 350.000, menyesuaikan jenis kain udengnya.

Kendati demikian, Udeng yang dibuat oleh Dewa Batik memiliki ciri khas tersendiri dengan menampilkan warna klasik atau warna-warna alam (sogan). "Kalau saya lebih ke klasik, warnanya ya sogan ini, warna-warna alam dan kadang juga menyesuaikan kebutuhan konsumen," tutup Dedy.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar