Akibat Virus Corona Semua Aktifitas Perdagangan Indonesia dengan China Terhenti



[caption id="attachment_16098" align="aligncenter" width="720"] Ilustrasi virus Corona. FOTO: istimewa[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Mengganasnya wabah virus Corona di negara China yang menyebabkan terhentinya seluruh aktifitas perdagangan Indonesia dengan negara tersebut memberikan dampak yang cukup besar bagi Indonesia, termasuk Provinsi Jawa Timur.





Bahkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim memprediksikan ekonomi Jawa Timur sepanjang triwulan I/2020 bakal terkendala atau bahkan turun sekitar 0,25%. Kendati demikian, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Promosi Luar Negeri Kadin Jatim, Tommy Kaihatu mengatakan, jika dirinya tengah memastikan akan ada banyak industri yang terganggu karena ketergantungan bahan baku dari China sangat besar.





"Selain industri pariwisata, industri lain yang terdampak diantaranya adalah industri manufaktur, industri pengolahan dan juga ekspor karena ekspor kita ke China juga sangat besar dan untuk mencari pasar baru itu butuh waktu. Dampak selanjutnya, Produk Domestik Regional Bruto kita juga akan ikut terganggu,” ujarnya.





Dikatakannya, bahwa selama ini sebagian besar bahan baku industri dalam negeri memang sangat tergantung dengan luar negeri. “Sekitar 70 persen bahan baku kita dari berbagai negara. Dan China sangat mendominasi, sekitar 50 persen lebih impor bahan baku kita berasal dari China seperti bijih plastik, baja dan mesin,” terangnya.


Sementara itu, seluruh China berhenti dan tidak ada aktivitas sama sekali akibat mengganasnya wabah virus Korona di negara tersebut. Kadin Jatim telah melakukan konfirmasi atas kondisi disana dan dinyatakan bahwa selain Provinsi Wuhan, ada tiga Provinsi lagi yang telah ditutup, yaitu Provinsi Hainan, Provinsi Jiangsu dan Provinsi Guangzhou.


“Jadi sebenarnya menghentikan impor untuk sementara waktu ataupun tidak menghentikan itu sama saja, karena tidak dihentikan pun impor tidak bisa dilakukan karena disana tidak ada yang bekerja. Diliburkan hingga Senin mendatang dan akan kemungkinan besar akan diperpanjang lagi ketika kondisi masih belum terkendali,” katanya.


Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu importir mesin dan alat berat di Jatim, Agus Malik. Owner PT Golden Teknik ini mengaku mendapat order mesin dan sudah membuka Pre-Order (PO) di sana namun tidak dikirim hingga sekarang. “Ya karena tidak ada yang kerja. Aktivitas di sana berhenti total. Saya sudah melakukan koordinasi dan mereka mengatakan belum bisa mengirim,” kata Agus.


Di sisi lain, Tommy juga mengatakan bahwa untuk melakukan substitusi bahan baku dari China ke bahan baku dalam negeri tidak serta merta bisa dilakukan. Karena Indonesia tidak banyak memiliki industri hulu yang bisa diandalkan. Misalkan bijih plastik, sangat sulit untuk menemukan di Indonesia. Kalaupun ada, harganya jauh di atas harga bahan baku dari China.


“China memiliki tiga hal yang menjadikan mereka sebagai market leader. Pertama konsistensi kualitas, konsistensi harga dan konsistensi kuantitas. Ketiga hal inilah yang kemudian menjadikan China sebagai raksasa besar di dunia. Sementara industry dalam negeri sangat sulit untuk memenuhi tiga kriteria tersebut,” pungkasnya.[lana/DM]


Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar