Surabaya Miliki Tiga Stasiun Pemantau Kualitas Udara

Salah satu stasiun pemantau kualitas udara (SPKU) yang ada di kota Surabaya

SURABAYA-SUREPLUS: Kota Surabaya di Jawa Timur memiliki sebanyak tiga stasiun pemantau kualitas udara (SPKU) ambien otomatis, guna mengukur konsentrasi pencemar udara, suhu udara, kelembapan udara, radiasi, serta arah dan kecepatan angin. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Agus Eko Supiadi menyatakan perangkat stasiun tersebut dipasang di Wonorejo, Kebonsari, dan Tandes.

“SPKU yang ada di Wonorejo dan Kebonsari, bisa mengukur arah dan kecepatan angin, kelembaban udara, suhu udara, dan radiasi. Selain itu, kedua SPKU ini juga memantau parameter kimia udara seperti NO, NO2, NOx, O3, SO2, CO, PM10,” ungkap Agus, saat sesi wawancara di Kantor LDH Surabaya, Sabtu (29/2/2020).

Agus mengungkapkan, berdasarkan pengukuran SPKU, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terhitung secara langsung dan hasilnya ditampilkan di monitor-monitor yang dipasang di pinggir jalan. SPKU Tandes yang merupakan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,  lebih lengkap dan tidak seperti perangkat di dua SPKU yang lain.

“SPKU Tandes dapat mengukur konsentrasi PM 2,5, partikel halus di udara yang berukuran 2,5 mikron atau kurang,” ujarnya.

Menurutnya, selain ketiga SPKU tersebut Pemerintah Kota Surabaya memiliki perangkat portabel yang bisa digunakan untuk melakukan pengukuran di berbagai tempat. Perangkat tersebut antara lain bisa mengukur konsentrasi cemaran PM 10, PM 5, PM 2,5, PM 1, NO, CO, SO2, dan O3.

“Lokasi-lokasi SPKU dan alat uji portabel ini sudah ada panduannya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan juga sudah SNI. Jadi, semua yang kami lakukan sudah sesuai peraturan yang ada di Indonesia. Itu artinya, ISPU yang dihasilkan valid,” kata Agus.

Kendati demikian, data ISPU dan Indeks Kualitas Udara (IKU) yang dihitung dari hasil pengukuran alat-alat pemantau kualitas udara menunjukkan bahwa sejak 2017 sampai 2019 kualitas udara Kota Surabaya cenderung membaik.

“Peningkatan kualitas udara Kota Surabaya antara lain dipengaruhi oleh upaya pemerintah untuk memperbanyak ruang terbuka hijau,” tutup Agus.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana