Dosen Kampus Teknologi Surabaya Gagas Pengurangan Implan Alkes

Fahmi Mubarok (paling kanan) bersama mahasiswa Departemen Teknik Mesin ITS yang sedang melakukan pengembangan terhadap implan tulang stainless steel.

SURABAYA-SUREPLUS: Dosen Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Fahmi Mubarok menggagas inovasi terbaru mengenai Peningkatan Kualitas Mekanik Implan Tulang Stainless Steel AISI 316L Lokal, melalui Mofidikasi Struktur Mikro dengan Proses Thermal-Cycling.

Gagasan ini merupakan jawaban atas kenaikan angka kecelakaan lalu lintas, yang menyebabkan ketergantungan impor Indonesia terhadap pemenuhan alat kesehatan (alkes) implan pun kian meningkat.

“Saat ini 95 persen implan yang beredar di Indonesia masih mengandalkan impor, sedangkan 5 persen lainnya diproduksi di dalam negeri. Meski telah memenuhi standar internasional dari American Standard Testing and Material (ASTM), kualitas masih tertinggal jauh dibandingkan produk impor dari negara-negara maju dari benua Eropa ataupun Amerika,” ungkap Fahmi, saat konfirmasi reporter Sureplus.id di Kampus ITS, Jumat (28/2/2020).

Fahmi mengungkapkan, dengan menggandeng PT Pelopor Teknologi Implantindo (PTI) sebagai mitra kerjanya, Fahmi mengembangkan inovasi implan lokal berstandar internasional dan memfokuskannya pada peningkatan kualitas agar dapat bersaing dengan produk impor.

“Intinya, penelitian kami mengkaji soal biomaterial implan, yakni implan bermaterial logam yang digunakan dalam dunia medis,” ujarnya.

Menurutnya, penelitian ini menggunakan metode thermal-cycling, yakni metode yang memperhatikan pengaruh variasi suhu siklus termal. Diawali dengan tahap pengecoran, kekuatan implan hanya akan meningkat sedikit yakni sebesar 560 megapascal (MPa) dibandingkan standar kekuatan tariknya yang sebesar 490 MPa.

“Padahal, kekuatan produk implan dari Eropa, khususnya Swiss mampu menembus angka 800 MPa,” kata Fahmi.

Setelah pengecoran, ia me-rolling hingga ketebalan implan berkurang setengahnya. Langkah berikutnya yakni dilakukan thermal-cycling dengan memanaskan produk di temperatur 90 derajat selama 35 detik, untuk kemudian didinginkan.

“Proses tersebut diulang beberapa kali hingga butiran struktur mikronya mengalami perubahan menjadi sangat kecil,” tutur Fahmi.

Hal ini, lantaran yang membedakan produk implan lokal dengan impor adalah struktur mikronya. Semakin kecil ukuran mikronya, maka semakin tinggi pula kualitas implan tersebut. Namun, melalui modifikasi struktur mikro, produk implan yang Fahmi inovasikan berhasil mencapai kekuatan 800 MPa dengan melewati beberapa proses.

Kendati demikian, dilihat dari jenisnya implan terbagi menjadi dua, yakni implan trauma dan implan permanen. Saat ini, Fahmi baru mengembangkan implan jenis trauma, yaitu implan yang digunakan secara temporary setelah pasien mengalami kondisi trauma seperti kecelakaan dan patah tulang.

“Sedangkan implan permanen merupakan implan yang digunakan secara terus menerus,” tutup Fahmi.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana