Minat Milenial Surabaya Untuk Peluang Bisnis Properti Masih Minim

SURABAYA-SUREPLUS: Peningkatan minat bisnis properti di kalangan muda masih harus digenjot lagi. Hal ini lantaran masih banyak dari kaum milenial di Kota Surabaya pun yang belum tertarik pada proyeksi properti di tahun 2020 ini, meskipun disinyalir adanya peningkatan di kalangan para pengembang.

“Untuk peluang bisnis properti sebenarnya sudah banyak sekali kalau di Surabaya sendiri. Tapi kalau saya pribadi sih belum tertarik saja, soalnya sudah pasti membutuhkan dana diatas Rp 50 juta,” ungkap Renata (26), salah satu warga Surabaya saat ditemui reporter Sureplus.id di Taman Apsari, Jumat (21/2/2020).

Renata mengungkapkan, setelah tahun pemilu 2019 lalu tak disangkal akan banyak pengembang yang menargetkan pemuda pemudi milenial. Namun, ia menilai bahwa peluang tersebut hanya bisa didapat oleh kalangan menengah keatas. Tidak hanya itu, golongan muda saat ini tidak bisa dipungkiri lebih suka menaruh perhatian pada indsutri kreatif seperti makanan, minuman serta kerajinan tangan.

Selain Renata, seorang mahasiswa bernama Hendrika menyatakan bahwa bisnis properti membutuhkan jejaring yang luas serta relasi kerja sama yang kuat. Sedangkan orang muda yang memiliki dua hal tersebut hanya segelintir jumlahnya.

“Pastinya kan dalam pengembangan properti, kita butuh partner untuk bekerja sama. Nah masalahnya kan ga banyak juga kan dari pemuda pemudi yang ingin berbisnis properti tapi kalah duluan sama yang sudah besar gara-gara gak ada partner yang bantu,” tutur Hendrika.

Sementara itu di lain tempat, seorang mahasiswa jurusan teknik informasi Alvi (24) mengatakan hal yang berbeda. Menurutnya, tidak semua peluang bisnis properti dipegang oleh kalangan menengah keatas.

“Alternatif peluang properti itu kan menabung. Sederhananya kumpulin uang saja kalau memang benar-benar ingin berkembang. Pada dasarnya orang-orang yang belum mau untuk berbisnis properti adalah mereka yang memang belum tahu saja,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tidak menampik fakta bahwa saat ini seseorang dengan umur 21 keatas membutuhkan hunian baru, meskipun tidak di kota Surabaya. Alvi mengakui bahwasanya memang peningkatan harga sebuah rumah di Surabaya naik pesat, namun dirinya berdalih properti bukan hanya soal hunian, namun juga investasi ke depan.

“Kalau dalam berbisnis properti, kita pasti kan harus melihat bagaimana pergerakannya dari tahun ke tahun. Jadi tidak sekedar hunian pribadi, tapi investasi yang kalau bisa dimulai dari sekarang saja cukup bagus. Saya saja sekarang udah lagi nyicil rumah di daerah perumahan di Yogyakarta, dapat tuh yang harganya Rp 300 jutaan,” kata Alvi.

Sementara itu, di Mart Polman sebagai Managing Director Lamudi.co.id telah melaksanakan survei terhadap hunian bagi pasangan muda. Tercatat bahwa mayoritas pasangan muda menginginkan membeli hunian yang dekat dengan sarana infrastruktur, seperti pintu tol, terminal bus ataupun stasiun kereta api. Ditambah lagi, kebutuhan akan koneksi internet yang notabene digandrungi masyarakat sebagai pekerjaan hingga hiburan.

“Banyak juga pasangan muda yang mengincar rumah dengan luas 60-90 meter persegi dengan dua kamar tidur. Mereka memang tidak memilih untuk membeli rumah dengan tipe terlalu besar, karena dianggap terlalu repot untuk mengurus,” pungkas Mart.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana