Walikota Surabaya Rapatkan Rencana Pengembangan Ekonomi Kota Bersama Pelaku Usaha

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dalam rapat koordinasi bertajuk “Tatap Muka dengan Pelaku Usaha terkait Perkembangan Ekonomi dan Dunia Usaha di Kota Surabaya” di Graha Sawunggaling komplek Balai Kota Surabaya

SURABAYA-SUREPLUS: Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini hari ini mengumpulkan para pelaku usaha dari berbagai bidang di Surabaya. Pertemuan tersebut, merupakan rapat koordinasi bertajuk Tatap Muka dengan Pelaku Usaha terkait Perkembangan Ekonomi dan Dunia Usaha di Kota Surabaya, yang digelar di Graha Sawunggaling komplek Balai Kota Surabaya.

Selama berlangsungnya rapat, Risma mendengarkan berbagai keluhan dari para pengusaha. Keluhan tersebut disampaikan langsung kepada Risma, mulai dari perizinan hingga kendala impor yang diakibatkan oleh virus corona Covid 19 di China.

“Jadi, kita tadi dengarkan masalahnya apa? Mungkin masalahnya dari perizinan, tapi ternyata bukan. Tadi ada juga masalah penyimpanan yang harus kita tindaklanjuti dan juga ada masalah Kapal Roro yang terbakar akibat tidak adanya kontrol truk yang akan naik ke Kapal Roro. Nanti kita akan rapatkan khusus soal itu,” ungkap Risma, saat memberikan penjelasan di Graha Sawunggaling Komplek Balai Kota Surabaya, Kamis (20/2/2020).

Risma mengungkapkan, dukungan kepada dunia usaha di Surabaya cukup besar. Seperti contoh  akses dan infrastruktur di Surabaya terus dibangun untuk mempermudah para pelaku usaha itu.

“Saya juga minta untuk bapak ibu  pengusaha sekalian, agar mengantisipasi berbagai hal yang akan terjadi,” ujarnya.

Maka dari itu, ia meminta para pengusaha itu untuk selalu menyiapkan rencana B dalam setiap usahanya, sehingga apabila rencana A menemui kendala, masih ada plan B yang bisa dijadikan solusinya.

“Kita harus punya plan A, B, C dan bahkan D, supaya ketika ada masalah tidak kaget dan tidak gampang menyerah,” kata Risma.

Ia menjelaskan, saat ini penduduk Kota Surabaya berjumlah 3 juta jiwa lebih. Apalagi bila digabungkan dengan Sidoarjo dan Mojokerto, jumlahnya akan semakin banyak. Belum lagi dalam skala Jawa Timur dan Indonesia.

“Artinya bahwa kita tidak perlu takut untuk membuka usaha dan mengembangkannya. Sebab, semua orang itu butuh makan, butuh pakaian, sandal dan sepatu. Jadi tidak perlu takut dan ragu,” ucapnya.

Karena itulah, kalau pun dalam usaha itu menemukan kegagalan, maka para pelaku usaha harus belajar dari sana. Bahkan, ia mengaku pernah bertemu dengan salah satu startup besar di Amerika Serikat. Pada saat itu, pelaku startup itu menyampaikan sudah gagal 99 kali dan baru yang ke 100 kalinya berhasil.

“Artinya, ketika kita jatuh harus bangun lagi, jatuh bangun lagi, sampai suatu saat takut itu takut kepada kita. Jadi tidak boleh menyerah. Dan wajib hukumnya bagi kita untuk terus belajar dari kegagalan itu,” tutur Risma.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jatim Sutandi Purnomosidi mengklaim sangat bersyukur mengembangkan usaha di Surabaya. Sebab, mal di Surabaya tidak pernah sepi dan cenderung meningkat, terutama pada Sabtu-Minggu.

“Kami sangat bersyukur berada di Surabaya. Kalau Sabtu-Minggu, banyak mobil-mobil dari luar kota ke Surabaya. Kami juga terus mempromosikan kondisi Surabaya dan kondisi perekonomian Surabaya. Bahkan, kami ingin menjadikan Surabaya ini sebagai destinasi wisata belanja,” tutup Sutandi.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana