Dampak Brexit Bagi Indonesia Versi Dosen Kampus Surabaya

SURABAYA-SUREPLUS: Negara Inggris secara resmi telah mengumumkan keluar dari Uni Eropa atau dikenal dengan sebutan Britain Exit (Brexit), Dosen Hubungan Internasional Fakultas llmu Sosial dan politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Irfa Puspitasari menyatakan bahwa keputusan tersebut menjadikan negara Inggris satu-satunya negara yang mencetak sejarah keluar dari Uni Eropa.

“Disamping sistem hukum serta tata kelola yang berbeda dengan kebanyakan negara Eropa yang kontinental. Mengutip dari Somai dan Beidermann (2016), banyaknya negara baru yang masuk jadi anggota dalam berbagai perluasan Uni Eropa adalah salah satu alasan keluarnya Inggris,” ungkap Irfa, saat sedang berada di kampus UNAIR, Surabaya, Senin (10/2/2020).

Irfa mengungkapkan, Brexit dapat dikategorikan sebagai politik isolasionalisme level ringan yang akan memberi batas kepada negara-negara tetangga. Sehingga peristiwa tersebut akan berdampak pada negara-negara di luar Uni Eropa, termasuk Indonesia.

Menurutnya, dalam bidang politik Irfa memaparkan bahwa para diplomat Indonesia harus menyiapkan strategi lagi untuk bernegosiasi dengan utusan Inggris. Menurutnya, pengalaman bernegosiasi dengan Uni Eropa mengenai isu-isu strategis sebelumnya dapat digunakan kembali.

“Tetapi, mengingat Inggris adalah partner yang cukup sulit dan Indonesia bukanlah negara commonwealth, sepertinya Inggris akan lebih mengutamakan Singapura dan Malaysia dibandingkan bekerja sama dengan kita,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tantangan pastinya terjadi pada bidang ekonomi. Irfa menganggap Inggris akan mengambil kebijakan dengan mempermudah ekspor dan mempersulit impor, hal itu dilakukan untuk melindungi kepentingan perusahaan-perusahaanya.  Selain itu, kepentingan dagang Inggris dapat mempengaruhi kebijakan ekonomi politiknya.

“Dengan banyaknya tantangan, bukan berarti Indonesia tidak memiliki kesempatan. Peluang tetap masih ada, Indonesia harus sigap mencari sisa-sisa yang tidak bisa diberikan oleh Malaysia dan Singapura,” tuturnya.

Kendati demikian, salah satu peluang itu adalah dengan mencegah penggundulan hutan untuk meningkatkan stok kayu yang sudah menipis karena Inggris mempunyai minat kayu yang besar terhadap Indonesia.

“Intinya Brexit akan menjadi tantangan besar bagi Indonesia untuk masuk ke pasar Inggris karena kebijakannya bisa lebih ketat dibanding Eropa.  Kalau soal volume Indonesia menang, tapi kalau soal relasi Indonesia lemah. Sehingga perlu kebijakan progresif untuk mengatasi itu,” tutup Irfa.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana