Rencana Pelaksanaan Uji Coba Hasil Riset Kemenhub dengan ITS pada 6 Bandara di Indonesia

[caption id="attachment_15885" align="aligncenter" width="1024"] Suasana diskusi tim peneliti ITS dengan Puslitbang Transportasi Udara Balitbang Kemenhub di kampus ITS.[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Transportasi Udara Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan RI akan menguji coba hasil kolaborasi penelitian dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Karya penelitian berupa Standing Water Detector (SWD) dan Wind Shear Detector (WSD) tersebut akan dilakukan uji operasional di enam bandara di Indonesia.

Kepala Puslitbang Transportasi Udara Novyanto Widadi mengatakan, rencana implementasi hasil penelitian dengan ITS ini menjadi urgent setelah permasalahan tergenangnya Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada saat pergantian tahun minggu lalu.

"Bandara yang menjadi pintu gerbang bagi para tamu negara tergenang air akibat curah hujan yang lebat," ungkap Novyanto, saat berkunjung di kampus ITS, Jumat (17/1/2020).

Novyanto mengungkapkan, uji coba peralatan WSD dan SWD ini akan dilaksanakan di enam bandara yang ada di Indonesia. Bandara tersebut, adalah Bandara Cengkareng, Halim Perdanakusuma, Kualanamu, Juanda, I Gusti Ngurah Rai, dan Sultan Hassanuddin.

Sementara itu, ketua tim peneliti Melania Suweni Muntini mengatakan bahwa dari sekitar 300 bandar udara (bandara) di Indonesia, belum ada yang dipasang detektor genangan air di landasan pacu. Padahal, menurut ICAO, genangan air tertinggi adalah 4 mm dan tidak boleh lebih dari 25 persen di area runway yang tergenang.

“Saat musim hujan seperti ini dan landasan pacu di bandara tergenang air, maka tidak ada informasi akurat pada pilot tentang seberapa tinggi genangan airnya, untuk mempertimbangkan mendarat atau tidaknya pesawat di bandara tersebut,” ujarnya.

Selain itu, angin di sekitar bandara terkadang juga berpotensi menimbulkan adanya angin samping (wind shear). Apabila arah dan besar angin muncul dari berbagai arah dengan kecepatan tinggi, maka akan menimbulkan kondisi yang berpotensi munculnya angin samping tersebut.

Kendati demikian, penelitian yang dilakukan Melania beserta timnya di Laboratorium Instrumentasi, Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Analitika Data ITS ini sudah dirancang kurang lebih selama dua tahun. Uji fungsional sudah dilakukan dan berhasil dengan baik, sekarang ini sedang dalam tahap sertifikasi.

“Untuk alatnya sendiri bisa di semua bandara, ada 300 bandara di Indonesia yang mempunyai potensi untuk diujicobakan, khususnya yang SWD,” tutup Melania.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar