NTP Jawa Timur Alami Peningkatan Capai 0,48 Persen di Desember 2019

[caption id="attachment_9776" align="aligncenter" width="800"] Nilai Tukar Petani, (NTP) Jawa Timur pada bulan Desember 2019 mengalami peningkatan[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Nilai Tukar Petani, (NTP) Jawa Timur pada bulan Desember 2019 mengalami peningkatan sebesar 0,48 persen dari 108,97 menjadi 109,49. Kenaikan ini, disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib).

"Indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 1,27 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik sebesar 0,79 persen," ungkap Satriyo Wibowo, Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) saat jumpa pers di Gedung BPS, Sabtu (11/1/2020).

Satriyo mengungkapkan, apabila dilihat perkembangan masing-masing sub sektor pada bulan Desember 2019, tiga sub sektor pertanian mengalami kenaikan NTP. Sub sektor yang mengalami kenaikan NTP terbesar terjadi pada sub sektor Hortikultura sebesar 1,32 persen dari 102,68 menjadi 104,04,

Diikuti pada posisi kedua sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,31 persen dari 95,15 menjadi 96,39, dan sub sektor Tanaman Pangan sebesar 0,25 persen dari 115,70 menjadi 115,99.

"Indeks harga yang diterima petani naik 1,27 persen dibanding bulan November, yaitu dari 153,10 menjadi 155,05. Kenaikan indeks ini disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani pada semua sub sektor pertanian," ujarnya.

Menurutnya, sepuluh komoditas utama yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang diterima petani bulan Desember 2019 tembakau, bawang merah, jagung, rumput laut, buah apel, gabah, buah jeruk, buah mangga, sapi potong dan tomat.

Sementara itu, ada pula sebanyak sepuluh komoditas utama yang  menghambat kenaikan indeks harga yang diterima petani. Komoditas tersebut yakni petai, ikan kuniran, ketela pohon/ubi kayu, ikan tongkol, ikan bawal, buah salak, gurame, buah alpukat, buncis, dan ikan peperek.

"Indeks harga yang dibayar petani terdiri dari 2 golongan yaitu golongan konsumsi rumah tangga dan golongan biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM)," kata Satriyo.

Ia menjelaskan, golongan  konsumsi rumah tangga dibagi menjadi kelompok makanan dan kelompok non makanan. Pada bulan Desember 2019, indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,79 persen di banding bulan November 2019 yaitu dari 140,50 menjadi 141,61.

"Kenaikan indeks ini disebabkan karena indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi perdesaan) mengalami kenaikan sebesar 1,06 persen, dan indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM) naik sebesar 0,24 persen," tuturnya.

Kendati demikian, sepuluh komoditas utama yang mendorong kenaikan indeks harga yang dibayar petani adalah tomat sayur, bawang merah, telur ayam ras, buah mangga, beras, buah jeruk, bawang putih, rokok kretek filter, jagung pipilan, dan bibit bebek/itik.

"Kalau yang menghambat kenaikan indeks harga yang dibayar petani bulan Desember 2019 adalah cabai rawit, umpan, daging ayam ras, bekatul, ikan cakalang, benih bandeng/nener, ikan lemuru, buah salak, Ikan tongkol, dan cabai merah," tutup Satriyo.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar