Mahasiswa ITS Bantu UMKM Produsen Donat Kentang

[caption id="attachment_15747" align="aligncenter" width="1024"] Penyerahan alat secara simbolis dari Mahasiswa Teknik Kimia kepada UMKM Jamu Delicious.[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Mahasiswa Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membantu pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam pembuatan donut kentang, dalam rangka pengabdian masyarakat. Alat ciptaan inovasi kelompok ini berupa proofer yang dapat mempercepat proses produksi donat kentang.

Amin Harahap, sebagai ketua pelaksana kegiatan menjelaskan melalui kegiatan ini, mahasiswa diharuskan merancang dan melaksanakan studi sistem atau proses berdasarkan prinsip teknik kimia dengan memanfaatkan metode, teknik, dan instrumen rekayasa modern.

"Selain itu, mahasiswa juga diminta untuk dapat mengidentifikasi problematika teknik kimia dan menyajikan beberapa alternatif solusi sesuai prinsip keilmuan teknik kimia. Harus berwawasan teknologi hijau dan hemat energi,” ujar Amin, di sela-sela kegiatan pengabdian masyarakat, Senin (6/1/2019).

Amin mengungkapkan, total ada 26 mahasiswa yang bergabung dalam kelompok satu ini bermitra dengan UMKM Wid Donat Roti Kentang. Proofer sendiri merupakan alat yang berbentuk lemari dan berfungsi sebagai pengembang adonan. Melalui suhu dan kelembaban yang terkontrol, hasil akhir dari adonan donat akan lebih optimal.

"Alat ini akan otomatis memutus sumber listrik apabila suhu melebihi 37 derajat celsius. Ini karena di atas 37 derajat, dikhawatirkan jamur Saccharomyces cerevisiae yang digunakan dalam ragi adonannya mati,” ujarnya.

Sedangkan kelompok lainnya, melalui bimbingan Prof Dr Ir Ali Altway MSc dan Fadlilatul Taufany ST PhD menciptakan alat yang dapat mengolah limbah sari kedelai menjadi makanan ternak. Alat rancangan mereka menggunakan proses pengeringan terhadap limbah susu kedelai sehingga dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak.

"Kalau kelompok kedua ini, bermitra dengan UMKM Jamu Delicious, alat bernama dryer ini digunakan setelah ampas kedelai ditekan hingga kadar airnya berkurang. Selanjutnya, dryer akan mengeringkan ampas kedelai yang hasilnya berupa pakan yang siap dikonsumsi ternak, ” kata Amin.

Sementara itu, kelompok ketiga menciptakan alat untuk mengolah limbah produksi batik. Limbah batik yang sebelumnya memiliki kandungan berbahaya jika dibuang langsung ke lingkungan dapat diproses oleh alat ciptaan mereka sehingga limbah menjadi aman untuk lingkungan. Alat pengolah limbah batik ini memiliki kapasitas sepuluh liter dengan konsumsi daya rendah yaitu sepuluh watt atau setara dengan sebuah lampu rumah biasa.

“Sehingga alat ini akan efektif bila digunakan oleh UMKM yang biasanya merupakan masyarakat awam,” ucapnya.

Kendati demikian, terlepas dari kesulitan dan rintangan yang harus mereka hadapi, kuliah lapangan berbasis pengabdian masyarakat ini berupaya menelurkan gagasan kreatif nan bermanfaat bagi UMKM maupun industri berskala besar.

“Kedepannya kami akan menggandeng mitra dari luar Surabaya agar dapat meluas sampai wilayah Indonesia timur,” tutup Amin.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar