Ketua DPRD Surabaya Minta RT/RW Maksimalkan Anggaran Kelurahan

[caption id="attachment_15700" align="aligncenter" width="700"] Ketua DPRD Surabaya, Adi Sutarwijono.[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono meminta kepada pengurus Rukun Tetangga dan Rukun Warga di seluruh daerah Surabaya agar memaksimalkan anggaran kelurahan, dengan memanfaatkan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan untuk usul pembangunan.

"Alur anggaran kelurahan harus melalui rembuk pengurus kampung dan lurah, dalam forum Musrenbang Kelurahan. Sebaiknya manfaatkan forum Musrenbang untuk usul pembangunan yang menjadi aspirasi warga," ubgkap Adi Sutarwijono, Jumat (3/1/2020).

Adi mengungkapkan, di tahun 2020 Kota Surabaya menggelontorkan anggaran kelurahan sebesar Rp576 miliar. Angka itu merupakan 5 persen dari jumlah APBD tahun 2020 sebesar Rp10,3 triliun.

Menurutnya, anggaran tersebut dibagi pada 154 kelurahan, sehingga diproyeksikan per kelurahan rata-rata Rp 3,5 hingga Rp4 miliar. Apabila anggaran itu dibagi jumlah RW, maka per RW kebagian pagu anggaran Rp300 sampai Rp400 juta. Ia juga mengingatkan bahwa pada tahun 2020, honor Ketua RT, Ketua RW dan Ketua LPMK di Kota Surabaya bakal naik Rp100 ribu sebulan. Untuk honor Ketua RT Rp500 ribu sebulan, Ketua RW Rp600 ribu dan Ketua LPMK Rp700 ribu.

"Sudah ada kesepakatan antara DPRD bersama Wali Kota Bu Risma dalam pengesahan APBD Surabaya 2020 pada 10 November 2019," ujarnya.

Ia pun mengutip ajaran kepemimpinan dari tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantoro yang berbunyikan "Ing ngarso sung tulodo, ing madyo bangun karso, tut wuri handayani".

"Di depan, bisa menjadi teladan. Di tengah-tengah bisa membangun kehendak bersama, semangat bersama dan di belakang, bisa rendah hati mengikuti kehendak warga," kata Adi.

Kendati demikian, Adi mengaku banyak mendengar berbagai suka-duka menjadi Ketua RT dan Ketua RW di kampung. Apalagi menghadapi berbagai macam watak warga.

"Menjadi Ketua RT, Ketua RW, juga Ketua LPMK tidak bisa terlalu kencang atau keras. Juga tidak bisa terlalu kendor, acuh tak acuh. Jadi, secara terampil, harus terus-menerus mencari setelan yang pas, seperti kalau gitaris sedang menyetel senar gitarnya. Jadi, kalau tidak didasari jiwa pengabdian, melayani warga, tidak mungkin bakal tahan memimpin warga," tutup Adi.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana

Posting Komentar

0 Komentar