Kemajuan Teknologi Dukung Perkembangan Pelaku IKM di Jawa Timur

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Elestianto Dardak bersama Dirjen IKMA Gati Wibawaningsih dan Kepala Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah. FOTO: Humas Pemprov Jatim.

SURABAYA-SUREPLUS: Pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Jawa Timur saat ini mulai banyak berinovasi, serta memaksimalkan kemajuan teknologi sehingga semakin efisien, kekinian, dan siap bersaing di era industri 4.0.

“Pertumbuhan sektor IKM di Jatim semakin baik, serta mampu memanfaatkan teknologi. Bukan hanya menjadi prioritas perekeonomian di Jatim, tapi juga menjadi barometernya IKM di seluruh Indonesia,” ungkap Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur, Arumi Bachsin di Gedung Remaja, Jalan Dukuh Kupang Surabaya, Jumat (24/1/2020).

Arumi mengungkapkan, bukti dari pemanfaatan kecanggihan teknologi tersebut terlihat saat digelarnya Kompetisi Desain Produk dan Kriya, dengan teknologi 3D Printing by Dekranasda Jawa Timur di GeekOut/ CoWork/ScaleUp (GECO) di AJBS Surabaya. Kompetisi tersebut diikuti 100 peserta, dan menghasilkan produk-produk yang sangat bagus, sehingga para juri sempat mengalami kesulitan saat menentukan pemenangnya.

Ia berkomitmen terus mendorong IKM Jatim agar semakin maju, dan mampu memanfaatkan teknologi. Dirinya ingin agar teknologi dapat menjadi salah satu modal utama dalam menjalankan bisnis IKM.

“Selain efisiensi, kita juga mencari inovasi yang terus bisa kita kembangkan dan kita gabungkan. Karena tulang punggung dari perekonomian Jatim adalah sektor UKM, dan IKM. Kami bersama Pemprov Jatim juga berkomitmen untuk memfasilitasi para pelaku sektor ini, mulai pelatihan, kemudahan mengakses modal, dan lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian RI, Gati Wibawaningsih yang turut hadir dalam kesempatan itu menjelaskan pentingnya pengembangan IKM. Menurutnya, IKM memegang peranan penting bagi tumbuhnya industri, yang merupakan prime mover economy (penggerak utama ekonomi) bangsa ini.

“Itu berarti, jika tidak ada industri maka para pelaku IKM tidak memproduksi barang, jika tidak ada produksi barang, maka bangsa ini harus impor barang,” kata Gati.

Dirinya mencontohkan, alokasi anggaran kredit usaha rakyat (KUR) yang mencapai total Rp. 190 trilun untuk KUR sektor produktif. Selain itu, aturannya juga dipermudah, yang mana saat ini KUR dengan nominal Rp 50 juta bisa tanpa agunan, bahkan, bunganya saat ini turun, yakni 6 persen setahun, dan ke depan akan disetting semakin turun lagi.

KUR Rp 50 juta tanpa agunan bisa digunakan sebagai bahan baku, seperti beli mesin dan peralatan. Tapi jika di atas Rp 50 juta tetap menggunakan agunan. Selain itu, Kementerian Perindustrian juga memiliki program restrukturisasi, guna mempermudah para pelaku UKM untuk modal bahan baku.

“Misalnya anda membeli mesin, jika mesinnya impor, maka pemerintah bayar 25 persen dari harga mesin. Jika mesinnya produk dalam negeri, pemerintah akan membayar 30 persen dari harga mesin tersebut. Jadi kami membina dari hulu sampai hilir, dari mulai bahan baku sampai dengan pasar. Untuk bahan baku kami akan dirikan yang namanya Material Center,” ucapnya.

Kendati demikian, untuk proses produksi pihaknya memiliki program pembinaan, pelatihan ataupun bimbingan teknis, dengan melibatkan balai-balai dan akademisi. Di Jatim, balai-balai milik Kementerian Perindustrian sudah tersebar diberbagai lokasi. Hal ini karena industri-industri kecil di Jatim sangat banyak.

“Alhamdulillah, pemerintah daerahnya paling top adalah Jawa Timur, bahkan pertumbuhan ekonominya paling tinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya. Jadi, benar Jawa Timur ini orangnya jempolan seperti bapak dan ibu sekalian. Untuk pasar, kami punya program yang namanya e-smart IKM, untuk membina IKM agar bisa berjualan secara digital,” tutup Gati.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana