Khofifah Minta Satgas Pangan dan KPPU Turun Langsung Atas Naiknya Harga Gula di Jawa Timur

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat sidak di salah satu Pasar di Sidoarjo.

SURABAYA-SUREPLUS: Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa meminta Satgas Pangan dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk turun langsung memeriksa ketersediaan gula di gudang-gudang dan pabrik-pabrik. Hal itu lantaran terdeteksi adanya kenaikan harga gula, dan diikuti dengan kelangkaan gula di sejumlah titik di Jawa Timur.

“Suplai gula di beberapa titik Jatim dalam seminggu ini mengalami kelangkaan di pasar. Berujungnya pada harga yang naik. Sejak Selasa lalu saya sudah meminta ke Bulog, PTPN X dan pabrik gula Rajawali untuk melakukan operasi pasar,” ungkap Khofifah, seperti yang tertulis dalam keterangan resminya, Senin (20/1/2020).

Khofifah mengungkapkan, pada dasarnya stok gula di Jawa Timur berada dalam kondisi aman, bahkan surplus. Berlandaskan produksi gula tahun 2019 dari delapan pabrik gula di Jatim ada produksi sebanyak 1.046.855 ton dalam setahun.

Menurutnya, saat ini persediaan gula di Jatim masih ada 185.785 ton. Hingga bulan Mei 2020 mendatang, konsumsi gula Jatim diperkirakan sebanyak 175.500 ton. Sehingga terdapat surplus 10.000 hingga musim giling bulan Mei tiba.

“Kita sebenarnya masih surplus 10.000 ton, tapi posisi saat ini baik di gudang Bulog maupun PTPN X serta gudang pabrik guka lainnya saya minta ada pengecekan stok apakah ada gula yang sudah kontrak jual beli dengan daerah lain terutama 16 provinsi yang logistiknya memang 80 persennya disuplai dari Jawa Timur atau ada yang sengaja menimbun,” ujarnya.

Karena itulah, Khofifah meminta agar Satgas dan KPPU untuk turun langsung mengecek gudang-gudang pabrik gula baik BUMN maupun swasta dan juga mengecek gudang Bulog. Hal ini dilakukan juga untuk memeriksa jika masih ada stok gula yang masih bisa dimaksimalkan untuk dijual ke pasar dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Saya minta Satgas Pangan dan KPPU untuk melakukan pengecekan dan monitoring. Adakah potensi gula yang masih bisa diedarkan ke pasar,” kata Khofifah.

Bersama dengan Disperindag Jatim, ia juga meminta segera melakukan koordinasi dengan pabrik gula, serta memastikan adanya sisa tebu yang belum digiling. Serta mendorong pabrik gula dan distributor pedagang untuk mengeluarkan stok yang ada di gudang untuk distribusikan ke pasar.

“Hal ini bertujuan untuk bisa memaksimalkan penggilingan. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengecekan ulang agar bisa maksimal,” ucapnya.

Sebagai upaya memastikan stok gula aman, di bulan ini pihaknya akan melakukan operasi pasar di seluruh kabupaten/kota bekerjasama dengan pabrik gula, PTPN , distributor dan Bulog dimulai tanggal 14 Januari 2020.

Disampinh itu, kelangkaan cabai yang terjadi akhir-akhir ini, juga menjadi perhatian Gubernur Khofifah. Ia menjelaskan, kelangkaan cabai di setiap awal musim hujan dikarenakan situasi alam. Ada beberapa wilayah yang terendam banjir, sehingga mempengaruhi luasan panen cabai. Dirinya menjelaskan, di awal musim hujan, dipastikan ada penurunan produksi cabai.

Kendati terjadi penurunan produksi, Khofifah memastikan bisa mensuplai kebutuhan cabai di Jatim dan provinsi lain.

“Dilihat luas lahan yang ditanami cabai, wilayah di Jatim sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan. Di Jatim ada lima ribu hektar lahan yang ditanami cabai. Luas tersebut jauh di atas yang dibutuhkan,” tutup Khofifah.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana