Larangan Swalayan Buka 24 Jam, Aprindo Beri Masukan Untuk Benahi Kebijakan

Suasana pasar swalayan modern (minimarket) di beberapa daerah Surabaya.

SURABAYA-SUREPLUS: Peraturan baru DPRD Surabaya yang melarang pasar swalayan untuk buka 24 jam banyak mendapat pertentangan. Staf ahli Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Abraham Ibnu, sering memberikan masukan bagi kabupaten maupun kota terkait raperda pusat perbelanjaan. Pembatasan itu memang berlaku di beberapa daerah, namun untuk Surabaya dia merasa perlu ada perbedaan.

”Surabaya itu bukan cuma melayani warganya. Banyak juga yang bekerja di sini, transit juga di sini. Masak ya mau cari tempat perbelanjaan harus menunggu sampai jam 9 pagi,” ungkap Abaraham, saat sesi wawancara di Surabaya, Kamis (16/1/2020).

Abraham mengatakan, aktivitas warga Surabaya diketahui sudah ramai sejak subuh. Mereka yang berangkat kerja atau bersekolah, sering mencari roti untuk sarapan di minimarket. Banyak juga yang membutuhkan minimarket untuk mengisi kartu tol.

Menurutnya, apabila Surabaya telah mengukir prestasi di kancah internasional dengan mendapatkan predikat kota terfavorit dalam ajang Guangzhou International Award 2018, hal tersebut berarti Surabaya juga melayani para pendatang dari mancanegara. Maka dari itu, dia mengharapkan minimarket tidak dibelenggu dengan aturan tersebut.

“Dalam draf raperda pusat perbelanjaan, minimarket baru boleh buka jam 09.00. Senin–Jumat toko swalayan itu harus tutup jam 22.00. Di hari Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya boleh buka hingga pukul 23.00. Khusus untuk minimarket di jalan arteri boleh buka 24 jam atas seizin wali kota,” ujarnya.

Berdasarkan Perpres Nomor 112 Tahun 2007 Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern serta Permendag Nomor 70 Tahun 2013 tentang Pedoman Penataan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.

”Kalau terlalu menyimpang dari ketentuan di atasnya, provinsi hingga Kemendagri bisa mengoreksinya,” kata Abraham.

Sementara itu, Kabag Hukum Pemkot Surabaya Ira Tursilowati menjelaskan bahwa usulan raperda itu muncul dari DPRD Surabaya. Pemkot sebenarnya memiliki keinginan yang sama untuk merevisi perda pusat perbelanjaan tersebut.

”Dari situ usulan dewan dijadikan satu dengan pemkot,” ucapnya.

Ia mengatakan, semua draf yang disusun sudah sesuai dengan aturan yang lebih tinggi. Karena itu, Ira tidak khawatir jika aturan yang sudah disusun tersebut bakal dikoreksi. Ira mengklaim paham atas kekhawatiran Aprindo terkait kebutuhan masyarakat. Terutama saat pagi hari, Pemkot memiliki program pemberdayaan toko kelontong.

“Nanti toko kelontong bentukan pemkot bisa menempati halaman minimarket sebelum pukul 09.00. Nah, yang sebelum pukul 9 itulah yang dipakai untuk menumbuhkan perekonomian rakyat,” tutur Ira.

“Selain jalan arteri, ada beberapa minimarket yang boleh buka selama 24 jam. Yaitu minimarket yang bangunannya berada di dalam fasilitas umum. Mulai stasiun, bandara, terminal, pelabuhan, hingga rumah sakit,” lanjutnya.

Kendati demikian, perihal ketentuan jarak antarminimarket akan kembali dibahas. Ketentuan itu sebenarnya sudah diatur dalam perda lama. Namun, sampai sekarang masih banyak minimarket yang bersebelahan atau berhadap-hadapan.

”Saya rasa sudah berkurang banyak kok. Kalau masih ada, nanti kami cek lagi penegakan hukumnya,” tutup Ira.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana