Dosen Kampus Teknologi Kembangkan Pengolahan Sampah Penghasil Listrik

Ridho Hantoro (kanan) bersama Plant Manager PLTSa Putri Cempo (kiri) saat meriset pengolahan sampah menjadi energi listrik.

SURABAYA-SUREPLUS: Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ridho Hantoro, menggagas pengembangan sistem kelola sampah menjadi listrik. Hal tersebut ia wujudkan dengan penelitian berbasis hydrothermal carbonization, yang mempunyai keunggulan yakni dapat mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya.

“Penelitian ini berangkat dari permasalahan penumpukan sampah di Indonesia yang semakin menjadi, terutama di kota-kota besar. Menurut saya, pemerintah daerah pun sudah ada yang memanfaatkan sampah menjadi listrik, namun dari beberapa jenis metode masih memberikan permasalahan pengurangan massa yang tidak signifikan,” ungkap Ridho, seperti yang tertulis dalam keterangan resminya, Selasa (14/1/2019).

Ridho mengungkapkan, dirinya terinspirasi dari konversi nilai energi dan jumlah masiv sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satu TPA yang mengaplikasikan metode ini adalah TPA Putri Cempo di bawah Pemerintah Kota Surakarta.

“Hasil proses hydrothermal carbonization akan digunakan sebagai bahan baku gasifikasi dan gas engine untuk menghasilkan listrik,” ujarnya.

Melalui penelitiannya yang berjudul Studi Pembangkitan Energi melalui Pengolahan Sampah Kota (MSW) dengan Proses Hydrothermal Carbonization (HTC) dan Gasifikasi, ia fokus menggunakan metode HTC dan Gasifikasi.

“Metode ini memiliki kelebihan tersendiri, yakni meningkatkan nilai kalori material sampah dalam bentuk padatan, sekaligus mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya,” kata Ridho.

Dalam prosesnya, limbah dipisahkan dari logam dan material toksik yang ada, kemudian dimasukkan ke dalam reaktor HTC. Pada kondisi saturasi biasanya 23 bar harus tetap dikontrol, hal itu juga tergantung kondisi dan komposisi karakteristik sampah. Jenis sampahnya bisa sampah plastik atau sampah organik seperti sayur-sayuran, limbah rumah tangga, plastik, kertas, dan lainnya.

Ia menjelaskan, selama kurang lebih empat sampai 10 jam akan terbentuk bubur karbon (char). Setelah itu bubur tadi dihilangkan kadar airnya, lalu dikeringkan dan menjadi briket. Briket yang sudah dikeringkan dimasukkan ke dalam gasifier, dan didapatkan metana murni yang di-treatment.

“Berikutnya, dimasukkan ke dalam mesin gas atau motor bakar yang akan menghasilkan listrik seperti halnya genset. Ia mengklaim, apabila dalam pemanfaatan limbah menjadi biogas akan dihasilkan gas organik, tetapi hasil yang dikeluarkan dari gasifier akan berupa gas sintetik (syngas),” tuturnya.

Kendati demikian, dosen yang juga menggeluti bidang energi terbarukan tersebut, penelitian yang sudah dilakukan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam menyelesaikan permasalahan sampah kota.

“Selanjutnya saya akan meneruskan penelitian ini dengan membuat prototipenya, lalu mencoba mengaplikasikannya,” tutup Ridho.[DEWID/DM]