Iuran BPJS Kesehatan Meroket, Sejumlah Warga Surabaya Pilih Biaya Mandiri Atau Turun Kelas

Kantor layanan BPJS Kesehatan di Surabaya

SURABAYA-SUREPLUS: Kebijakan BPJS Kesehatan dalam menaikkan tarif iuran hingga 100 persen mendapat berbagai reaksi, salah satunya di kota Surabaya. Beberapa warga Surabaya, yang merupakan peserta memilih untuk turun kelas dan bahkan ada pula yang memilih untuk hengkang dari status pesertanya.

“Kalau jumlah segitu untuk orang-orang yang perbulannya dapat diatas 3 juta sih kecil. Lah sedangkan kita orang kecil mendingan turun kelas saja,” ungkap Supriyadi, salah satu warga Surabaya yang bekerja sebagai tenaga kebersihan di salah satu perusahaan, saat diwawancarai reporter Sureplus.id di jalan Pahlawan, Surabaya, Senin (13/1/2020).

Supriyadi mengungkapkan, setiap peserta dituntut untuk membayar iuran perbulannya, sementara tidak setiap hari masyarakat perlu berobat. Ia mengakui memang bahwasanya pembayaran dilakukan apabila suatu saat terjadi hal-hal yang tidak terduga, seperti kecelakaan maupun sakit yang parah.

Namun, menurutnya kenaikan tidak harus mencapai 100 persen. Hal tersebut dinilai sangat tidak efektif dan malah akan mengurangi jumlah peserta BPJS Kesehatan. Dirinya mengklaim bahwa banyak dari kawannya yang memutuskan untuk turun kelas menjadi kelas 3, dan ada juga yang memilih untuk menggunakan dana mandiri.

“Harusnya kan ada pemetaan dulu. Tidak langsung diratakan semua kenaikanya,” ujarnya.

Selain itu, beberapa dari masyarakat kalangan menengah keatas mengatakan bahwa mereka akan segera hengkang dari BPJS Kesehatan. Salah satunya adalah Andrei, yang menyatakan heran karena apabila peserta BPJS rutin membayar setiap bulan, lantas mengapa BPJS Kesehatan masih berhutang pada Pemkot Surabaya hingga mencapai Rp 60 miliar lebih.

“Mendingan saya ikut asuransi saja. Toh ya sistemnya kalau dibilang istilahnya 11/12 dengan BPJS Kesehatan,” kata Andrei.

Kendati demikian, Andrei akan menonaktifkan akun BPJS Kesehatannya dalam kurun waktu beberapa bulan lagi. Ia bahkan mengklaim sanggup apabila harus mengeluarkan biaya pribadi dalam sekali berobat.

“Kebutuhan setiap orang memang berbeda. Tapi kalau merogoh kocek meskipun saya tidak sakit tetap merupakan sesuatu yang merugikan buat saya,” tutup Andrei.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana