Menguatnya Emas Versus Harapan Berakhirnya Perang Dagang AS-Cina

Ilustrasi. FOTO: SUREPLUS/DOK

Pada pekan lalu, emas mengalami kenaikan. Kenaikan ini bisa dikatakan impresif karena terjadi saat sentimen pelaku pasar sedang bagus-bagusnya, dan bursa saham AS (Wall Street) terus mencetak rekor tertinggi. Padahal, ketika sentimen pelaku pasar bagus dan saham Wall Street melesat naik, emas biasanya kurang menarik. Akan tetapi faktanya, sepanjang pekan lalu, emas malah menguat 2,2%.

Dengan adanya kesepakatan dagang fase l antara AS-Cina dan akan berlanjut ke negosiasi fase ll, perang dagang antara dua negara yang telah berlangsung selama 18 bulan dan menyeret turun pertumbuhan ekonomi global itu, kemungkinan besar memang akan berakhir. Dan ketika perang dagang berakhir, harapannya tentu saja ekonomi global kembali bangkit, dan ketika ekonomi global bangkit, secara otomatis aset-aset berisiko serta merimbal hasil tinggi akan menjadi target investasi, aset aman (safe haven) seperti emas yang juga tidak memiliki imbal hasil, menjadi tidak menarik.

Lantas kenapa dalam situasi demikian posisi emas malah menguat?

Para pelaku pasar tentu saja mengharapkan perseteruan dagang antara AS-Cina segera berakhir. Namun tanpa adanya bukti dan data-data yang menguatkan, harapan bangkitnya ekonomi global itu tak lebih dari sekadar espektasi. Dan itu terlihat dengan masih kuatnya posisi emas sebagaimana fakta di ETF berbasis emas terbesar di dunia, SPRD Gold Trust yang aset kepemilikannya mengalami peningkatan.

CNBC International mewartakan, pada Jumat (27/12/2019) kepemilikan di SPDR Gold Trust naik 0,1% ke menjadi 893,25 ton, dan menjadi yang tertinggi sejak 29 November, setelah sebelumnya, total kepemilikan aset juga mengalami kenaikan sebesar 0,3%. Selain itu, data Commodity Futures Trading Commission’s (CFTC) juga menunjukkan volume net buy emas pada pekan lalu sebanyak 286.3000 kontrak, sama dengan pekan sebelumnya.

Posisi net buy yang tidak mengalami penurunan di saat bursa saham AS terus mencetak rekor tertinggi memberikan gambaran bahwa investor masih percaya emas akan tetap bersinar. Sejauh ini, selain Goldman Sachs, UBS Group AG dan Citigroup juga memprediksi harga emas akan mencapai US$ 1.600/troy ons di tahun 2020.

2020 sudah di depan mata. Dengan kenyataan ini apakah kita optimis perang ekonomi antara AS-Cina akan berakhir, atau sebaliknya? Wallahu’alam. [Fahmi Faqih]