Produksi Kedelai Jatim Alami Penurunan Hingga 10,6 Persen

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo, yang mengklaim turunnya produktivitas kedelai dan bawang putih dalam lima tahun terakhir.

SURABAYA-SUREPLUS: Produksi kedelai di daerah Jawa Timur selama lima tahun terakhir alami penurunan yang mencapai angka 10,6 persen. Hal ini terjadi lantaran menurunnya luas panen 10,1 persen serta diikuti juga menurunnya produktivitas sebesar 0,83 persen.

Dari data yang dihimpun oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim pada tahun 2019, luas panen kedelai di Jatim sekitar 84.008 ton. Sedangkan untuk produktivitas 14,44 kuintal per hektar.

“Rata-rata produksi kedelai di Jatim selama 5 tahun belakangan mencapai sekitar 301.031 ton ose, sedangkan kebutuhan konsumsi mencapai 447.912 ton ose,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo, seperti yang tertulis dalam siaran persnya, Sabtu (28/12/2019).

Hadi mengungkapkan, masuknya impor kedelai ini karena petani ini kurang berminat menanam kedelai secara optimal. Penurunan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah harga bibit kedelai Rp 8.500, namun setelah dijual harganya dibawah Rp 7.000.

“Selain itu resiko hama dan penyakit lebih tinggi ketimbang padi atau jagung,” ujarnya.

Menurutnya, karena harga jual yang tidak mendukung maka intensifikasi budidaya kedelai secara umum jarang dilakukan. Hal ini tentunya berdampak pada kualitas hasil panen yang kurang optimal.

“Secara kualitas, kedelai impor lebih bagus ketimbang kedelai lokal milik petani,” kata Hadi.

Ia menjelaskan, beberapa upaya telah dilakukan untuk menangani penurunan, seperti pihaknya akan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan perluasan area tanam. Selain itu juga melakukan pola tumpang sari.

“Kami juga akan mendorong industri olahan untuk memanfaatkan kedelai lokal,” tuturnya.

Kendati demikian, produktivitas yang menurun juga terjadi pada komoditas bawang putih. Bawang putih mengalami defisit, karena luas tanam bawang putih hanya 73 ha dengan produktivitas rata-rata sebesar 7 ton/ha.

“Maka produksinya hanya mencapai 497 ton. Sementara kebutuhan untuk konsumsi sebesar 59.280 ton. Dengan demikian, defisit bawang putih mencapai 55.783 ton,” tutup Hadi.[rilis/DM]