Kisah Sukses Perjalanan Bisnis Pengusaha Software Asal Surabaya

Hengki Widjaja, yang saat ini adalah pemilik dan Direktur Itree Pty Ltd, memimpin pasar (market leader) perangkat lunak (software) keamanan lalu lintas darat dan laut, produktivitas lembaga, dan penegakan hukum di seluruh wilayah Australia dan Selandia Baru.

SURABAYA-SUREPLUS: Berdasarkan kecintaan akan suatu hal dan usaha yang keras nan tekun, seseorang dapat meraih kesuksesan yang amat besar. Salah satunya adalah Hengki Widjaja, seorang yang sukses berkat kecintaannya dalam komputer, khususnya perangkat lunak berhasil mencapai suksesnya di negeri kangguru.

Hengki Widjaja, yang saat ini adalah  pemilik dan Direktur Itree Pty Ltd, memimpin pasar (market leader) perangkat lunak (software) keamanan lalu lintas darat dan laut, produktivitas lembaga, dan penegakan hukum di seluruh wilayah Australia dan Selandia Baru. Ia bekerja di kantor pusat di Wollongong, kota ketiga terbesar di New South Wales, 80 kilometer sebelah selatan Sydney.

“Kalau saya ingat kembali, sudah sejak kelas 6 SD saya sudah punya minat besar dalam pemrogaman komputer. Saya waktu kecil dulu memanfaatkan komputer milik saudara kandung saya untuk belajar. Waktu itu, masih berupa PC IBM 286,” ungkap Hengki, saat berkunjung sebentar ke kota Surabaya.

Pria kelahiran Surabaya tahun 1976 ini pun mulai kursus komputer Program Basic. Pada saat masuk kelas 1 Sekolah Menengah Pertama, ia telah mempelajari Program Pascal, Fortran dan seterusnya. Kemudian waktu kelas dua, keingintahuannya pada komputer semakin besar dan kuat.

Karena kecintaannya pada pemrograman komputer, ia mengabaikan pelajaran Geografi dan lain sebagainya. Namun, karena fokus belajar komputer, saat kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA Petra Surabaya) ia sudah bisa mengalahkan siswa kelas 3 dalam Lomba Informatika Komputer se-Jawa Timur.

“Waktu itu pelajaran ilmu komputer sangat terbatas, ditambah belum masuknya internet ke Tanah Air. Tahun 1994,  saya terdorong untuk meneruskan pendidikan ke University of Wollongong. Ada dua alasan kenapa saya memilih perguruan tinggi tersebut. Pertama, jarak. Waktu itu ada pilihan ke Amerika atau Australia. Karena Amerika terlalu jauh, ya sudah saya ke Australia,” ujarnya.

Hengki mengungkapkan, alasan kedua adalah kalau di Australia, maka University of Wollongong merupakan salah satu yang terbaik di bidang ilmu komputer, terutama dalam hal practical application.

“Akhirnya saya memutuskan tinggal di Wollongong dan mendapat gelar Sarjana Ilmu Komputer [Bachelor of Computer Science] dalam kurun waktu tiga tahun,” kata Hengki.

Belum puas dengan gelar sarjananya, Ia tertarik melanjutkan studinya ke jenjang pascasarjana di universitas yang sama dengan spesialisasi keamanan komputer (computer security). Namun sayangnya, pada tahun 1998 Negara Indonesia terkena krisis moneter. Orang tuanya pun menyatakan tidak sanggup membiayai kuliahnya karena pendapatan yang terbatas akibat kenaikan kurs rupiah terhadap dolar.

“Lantas saya bilang ke orang tua saya, ‘Oke, enggak usah takut dengan biaya hidup karena saya akan mencarinya sendiri’. Tapi uang yang ada dipakai untuk membayar kuliah. Waktu itu hanya cukup untuk biaya dua semester,” tutur Hengki sembari mengenang.

Dari sanalah awal mula Hengki mencari pekerjaan di Wollongong. Pekerjaan pertamanya, yakni Access Database, lalu Tutorial Programming. Setelah itu barulah ia bergabung dengan Itree sebagai casual software developer. Saat ia masuk, karyawan perusahaan tersebut baru tiga orang.

“Saya memang bukan pendiri Itree. Mulai masuk dulu sebagai karyawan biasa pada 1998 ketika perusahaan baru memiliki tiga orang staf. Saya pun bergabung bukan berarti ingin meniti karier secara serius, melainkan hanya untuk bertahab hidup sebagai mahasiswa rantu,” ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, Itree terus tumbuh. Kinerja keuangannya perlahan pun ikut membaik. Kariernya mulai melesat kala itu. Ketika menjadi project manager, ia berhasil menorehkan keuntungan proyek terbaik dibanding project manager lainnya.

Padahal, memasarkan produk dan layanan Itree—seperti perangkat lunak untuk kamera pengawas kecepatan kendaraan (speed camera), stasiun pengecekan truk (truck checking station), dan pengaturan lalu lintas kapal laut di pelabuhan—yang target pasarnya adalah lembaga pemerintah, apalagi dilakukan oleh orang Indonesia, jelas tidak mudah.

“Akhirnya saya ditunjuk oleh pemegang saham Itree untuk menempati posisi sebagai Managing Direktur perusahaan. Waktu memimpin dulu, saya juha bekerja sama dengan mitra bisnis dan akhirnya bisa melejitkan pertumbuhan perusahaan,” katanya dengan bangga.

Kendati demikian, Hengki tak mau menyebutkan indikator pertumbuhan Itree dalam jumlah dan persentase berdasarkan finansial yang dicatatkan. Namun, ia menggambarkan salah satu pertumbuhan itu dengan jumlah karyawan.

“Saat saya menerima jabatan sebagai managing director, jumlah karyawan Itree sudah 60 orang. Puji syukur, bersama dengan tim, saya mampu memimpin perusahaan menjadi sekitar 100 orang,” tutup Hengki.[DEWID/DM]