Harga Komoditas Pangan Pasar Tradisional Surabaya Masih Stabil Jelang Nataru

Kegiatan dagang yang berlangsung di Pasar Tradisional Pakis. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Para pedagang pasar tradisional mengklaim bahwa bahan pokok masih cenderung stabil jelang perayaan hari raya Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Hal ini, lantaran stok yang mereka miliki masih berlimpah dan harganya belum mengalami kenaikan ataupun penurunan secara signifikan.

“Harga bawang merah dan bawang putih sinco rata-rata Rp 25 ribu/kg, cabe merah keriting biasanya Rp 25.500/kg, cabe merah besar biasa Rp 21 ribu/kg, cabe rawit Rp 28 ribu/kg,” ungkap Bambang Sadewo, salah satu pedagang pasar Keputran Surabaya saat diwawancarai reporter Sureplus.id di lokasi, Jumat (6/12/2019).

Bambang mengungkapkan, ada pula kacang hijau dan kacang tanah masing masing Rp 20 ribu/kg dan Rp 26 ribu/kg. Selain itu, kentang masih seharga Rp 12 ribu/kg, tomat sayur Rp 8 ribu/kg, wortel lokal Rp 9 ribu, kacang buncis Rp 13 ribu/kg dan kubis dengan harga Rp 6 ribu/kg.

Menurutnya, tahun ini harga tidak seberapa melonjak lantaran selain ketersediaannya stok, para pembeli masih belum memasuki masa puncak belanja yang biasa terjadi pada saat perayaan hari raya Natal dan Tahun Baru. “Mungkin minggu besok ini, atau mungkin sekitar H-5 dari tanggal 24 sudah banyak yang borong ini. Kita juga harus siap-siap,” ujarnya.

Tidak hanya di Pasar Keputran, stabilnya harga masih terjaga di pasar tradisional Pakis Surabaya. Sejauh ini, hanya beberapa pedagang yang mengaku menaikkan harga beberapa bahan pokok. Salah satunya adalah Sunardi, pedagang pasar Pakis yang mengklaim naikkan harga sedikit menjelang Nataru.

“Seperti tepung terigu segitiga biru saya patok Rp 82 ribu/kg, telur ayam kampung Rp 40 ribu/kg, gula pasirnya Rp 13 ribu sama minyak goreng Rp 13 ribu per liter,” ujarnya.

Ia menjelaskan, meskipun ia patok harga yang berbeda, namun ha ini tidak serta merta membuat kiosnya sepi. Hal tersebut, lantaran Sunardi memang memiliki beberapa pelanggan setia yang sudah hafal dengan sistem dagangnya.

“Kalau masalah harga dengan saya, beberapa orang sudah hafal dan ngerti kalau akhir tahun memang saya agak naikkan sedikit. Tapi ya tidak masalah juga selama barangnya masih segar,” kata Sunardi.

Kendati demikian, naiknya UMK di kota Surabaya juga mempunyai pengaruh pada penjualan pasar tradisional, meskipun tidak seberapa besar. “Biaya hidup akan semakin naik di tahun 2020 mendatang ini, dan kita mau tidak mau harus siap. Apalagi sekarang kan harga rokok juga naiknya ibarat meroket, sementara di Surabaya saja jumlah perokok bejibun,” tutup Sunardi.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana