Setelah Dua Bulan Deflasi, Jatim Kembali Alami Inflasi 0,23 Persen Pada November 2019

Kepala Distribusi Statistik BPS Jatim, Satriyo Wibowo saat menjelaskan inflasi di Jatim bulan Desember 2019.FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Pada bulan November 2019, Jatim kembali mengalami inflasi sebesar 0,23 persen setelah dua bulan sebelumnya sempat deflasi. Inflasi terhitung yaitu dari 135,61 pada bulan Oktober 2019 menjadi 135,93 pada bulan November 2019. Inflasi November 2019 lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2018, dimana pada bulan November 2018 mengalami inflasi sebesar 0,27 persen.

“Terdapat lima kelompok yang  mengalami inflasi. Tertinggi adalah kelompok Bahan Makanan sebesar 0,79 persen, diikuti kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau sebesar 0,30 persen, kelompok Kesehatan sebesar 0,29 persen, kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar sebesar 0,12 persen, dan Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga sebesar 0,05,” ungkap Satriya Wibowo, Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur saat jumpa pers di Gedung BPS Jatim, Rabu (4/12/2019).

Satriyo mengungkapkan, ada tiga komoditas utama penyumbang inflasi di bulan November 2019. Komoditas tersebut, ialah bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Harga bawang merah pada bulan November masih mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga tetap menjadi komoditas utama penyumbang inflasi.

Menurutnya, harga daging ayam ras dan telur ayam ras turut mengalami kenaikan dimana salah satu penyebabnya adalah banyaknya permintaan pada saat menjelang peringatan maulid nabi.

“Inflasi tahun ini dihambat oleh tiga komoditas utama di bulan November 2019. Komoditas tersebut yakni cabaimerah, emas perhiasan, dan cabai rawit. Harga cabai merah dan cabai rawit pada bulan November berangsur-angsur terus mengalami penurunan, dimana pada bulan-bulan sebelumnyamengalami kenaikan harga yang cukup tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penurunan harga cabai merah dan cabai rawit membuat keduanya menjadi komoditas utama penghambat terjadinya inflasi. Sementara itu, harga emas perhiasan juga terus mengalami penurunan, setelah pada bulan sebelumnya juga menjadi komoditas utama penghambat inflasi.

Inflasi di 8 Kota Jawa Timur

Penghitungan angka inflasi di 8 kota IHK di Jawa Timur selama November 2019, seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep yaitu mencapai 0,41 persen, diikuti Kediri sebesar 0,38 persen.

“Kemudian yang di Probolinggo sebesar 0,31 persen, Surabaya dan Jember sebesar 0,28 persen, Banyuwangi sebesar 0,22 persen, Madiun sebesar 0,16 persen, dan Malang sebesar 0,01 persen,” kata Satriyo.

Kendati demikian, Jika dibandingkan tingkat inflasi tahun kalender (Januari – November) 2019 di 8 kota IHK Jawa Timur, sampai dengan bulan November 2019 Banyuwangi merupakan kota dengan inflasi tahun kalender tertinggi yaitu mencapai 2,02 persen. “Sedangkan kota yang mengalami inflasi kalender terendah adalah Kediri yang mengalami inflasi sebesar 1,35 persen,” tutup Satriyo.[DEWID/DM]

Editor: Dony maulana