Dosen Kampus Surabaya Bagikan Pengalaman Mengajar di Jepang

Diah Ariani Arimbi (kiri) dan Prof. Motoko Sugano menerima kenang-kenangan saat di Waseda Universty, Tokyo, Jepang.

SURABAYA-SUREPLUS: Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) Diah Ariani Arimbi, yang baru saja terbang dari Tokyo, Jepang membagikan pengalamannya selama seminggu mengajar di negeri sakura tersebut. Diah, sapaan karibnya, terbang ke Tokyo, untuk mengajar sastra Inggris di Waseda University, Tokyo.

“Saya diundang oleh teman saya, yakni Prof. Motoko Sugano untuk datang langsung mengajar bersama mahasiswa asli Jepang. Disana ia mengajar lima mata kuliah Sastra Inggris,” ungkap Diah, saat dikonfirmasi reporter Sureplus.id di kampus UNAIR, Rabu (4/12/2019).

Diah mengungkapkan, ia mengajar kebudayaan Indonesia dalam bahasa Inggris. Metode mengajarnya, yakni mengaplikasikan media film yang mampu menarik perhatian para mahasiswa Jepang. Diah juga sempat mengajar dua mata kuliah dalam satu hari yakni General English.

“Film Laskar Pelangi yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jepang memudahkan saya mengajar mereka,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dirinya juga mempresentasikan berbagai pemikiran wanita di Indonesia kepada mahasiswa Jepang. Banyak dari fokus penelitiannya yang mengangkat isu wanita sekarang dan masa depan menjadi bahasan menarik selama ia disana.

Dirinya mengaku, bahwa para mahasiswa Jepang sangat bersemangat terhadap kebudayaan Indonesia. Gambaran besar Bangsa Indonesia yang ada di film Laskar Pelangi, membuat mahasiswa Jepang memiliki antusias yang tinggi dalam mempelajarinya. Ia juga menceritakan budaya di Indonesia yang beragam dengan karakteristik.

“Saya juga menceritakan novel dan karya sastra di Indonesia yang sudah diangkat menjadi film. Antusiasme mahasiswa Jepang terhadap karya sastra tersebut merupakan kesan tersendiri untuk saya pribadi,” kata Diah.

Kendati demikian, dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, Diah menerapkan kolaborasi dan aktivitas budaya langsung. Hal tersebut bertujuan agar komunikasi dengan para mahasiswa Jepang dapat terjalin dengan baik. “Yang jelas pakai bahasa Inggris, tapi tentu saja Prof. Motoko membantu dalam menerjemahkan,” tutup Diah.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana