Beberapa Pelaku UMKM Surabaya Akui Penurunan Perhatian Pemkot

Macam-macam produk hasil karya UMKM Surabaya. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Surabaya mengaku, bahwa saat ini Pemkot sudah mulai menurunkan perhatiannya pada mereka. Mereka menilai, selama tahun 2019 ini pemkot hanya  memberikan dua acara untuk seluruh UMKM Surabaya, yakni Mlaku Tunjungan dan Bazar di Surabaya.

“Sedih juga sebenarnya. Apalagi, kegiatan pelatihan di Kaza itu sekarang sudah banyak peminatnya, dan kabar terakhir yang saya dapatkan disana justru sekarang pelatihan itu ditiadakan,” ungkap Dyah Puspitaloka, salah seorang pengusaha muda di Surabaya, saat dihubungi reporter Sureplus.id, Rabu (27/11/2019).

Dyah mengungkapkan, bahwasanya ia sendiri merasa kasihan melihat para pebisnis awal yang harus merogoh kocek sebesar Rp 100 ribu lebih, demi mendapatkan ilmu dalam pelatihan tersebut. Namun, ia mengatakan bahwa saat ini juga sudah banyak mahasiswa dari kampus yang membantu para pelaku UMKM Surabaya.

Menurutnya, ada beberapa pelaku UMKM yang tidak seberapa merisaukan perhatian pemkot Surabaya. Mereka adalah para pelaku UMKM, yang masuk dalam binaan instansi di Indonesia. Contohnya adalah umkm binaan Pertamina, Bank Indonesia dan masih banyak BUMN lain.

“Bukan kurang perhatian atau abai, ya mungkin saja para pelaku bisnis usaha juga dituntut untuk mandiri dan mencari pengetahuan diluar,” ujarnya.

Sementara itu, pendapat berbeda di lontarkan oleh salah satu pebisnis UMKM, yang menjadi binaan Bank Indonesia, Suhatdi. Ia menyatakan, memang banyak sekali pengusaha yang mendaftarkan usaha mereka untuk menjadi binaan. Namun tidak banyak yang diterima, lantaran standarisasi yang ditetapkan dapat dibilang cukup tinggi.

“Kalau Pemkot dibilang menurunkan perhatian, ya itu juga kurang benar. Ya ibaratkan anak yang harus mandiri karena orang tua tidak selamanya akan mengasuh anak, begitu juga dengan UMKM. Saya lebih setuju kalau pelatihan buat yang pemula-pemula saja,” kata Suhatdi.

Kendati demikian, ia menganggap pernyataan La Nyalla soal walikota Surabaya, Tri Rismaharini  yang tidak mempedulikan pelaku UMKM merupakan ucapan orang awam. Hal tersebut, lantaran pemkot Surabaya sendiri sudah dapat menjadi jembatan untuk para pelaku usaha bergabung dalam binaan.

“Kan katanya mau ketemu langsung sama Bu Risma. Semoga saja, bisa mengerti antara kedua belah pihak,” tutup Suhatdi.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana