Zangrandi, Pelopor Kedai Es Krim di Indonesia

Kedai es krim Zangrandi. FOTO: Traveloka

“Jangan bilang sedang di Surabaya kalau belum mencicipi es krim Zangrandi.”

Sore itu, lampu neon dengan gradasi merah-biru terlihat menyala di keremangan senja di Jalan Yos Sudarso, Surabaya. “Zangrandi,” begitu nama yang terbaca, adalah kedai es krim legendaris yang sohor di semua kalangan—tempat bernostalgia generasi walashri sekaligus tujuan favorit untuk kencan pertama generasi melenial.

Didirikan tahun 1930 oleh pria Italia bernama Roberto Zangrandi, kedai es krim Zangrandi bisa dikatakan pelopor dalam bisnis es krim di tanah air—dua tahun lebih tua dari es krim Ragusa di Jakarta (1932), dan empat tahun lebih dulu ketimbang es krim Jangkie (sekarang Tip Top) di Medan (1934). Tahun 1960, keluarga Zangrandi memutuskan kembali ke negeri mereka dan menjual bisnis es krim mereka kepada Adi Tanumulia.

Meski telah lama berdiri, tak banyak yang berubah dari kedai es krim Zangrandi. Lantai berwarna coklat bata masih dipertahankan sebagaimana aslinya, begitu pun dengan keberadaan kursi-kursi rotan dan meja keramik berbentuk bundar. Menurut Felix, generasi ketiga keluarga Tanumulia, “perbaikan dan renovasi sengaja tak menghilangkannya dari kesan masa lalu. Jadi kalau lihat beberapa ruangan hasil foto jaman dahulu dari kedai es krim yang dibuat oleh kakek saya, Adi Tanumulia, memang masih terlihat sama.”

Ada belasan menu dengan ragam cita rasa dan tampilan yang ditawarkan. Namun Banana Split, Tutti Fruti, Mecodonia, dan Es krim soda, tetap menjadi pilihan utama yang diminati sejak masa Zangrandi berdiri. Dibandingkan dengan es krim lain, es krim Zangrandi memiliki beberapa keunggulan. Sebagaimana dijelaskan Felix, “Es krim dibuat dengan cara tradisional dan menggunakan bahan-bahan alami seperti susu sapi segar, gula pasir dan buah-buahan. Kalau rasa buah, ya kita pakai buah. Karena itu pula, warna es krim kami tak begitu mencolok. Kita tidak pakai pengawet atau apa pun yang membuat es tahan lebih lama, ini menjadi ciri khas Zangrandi. Es krim yang dihidangkan, harus cepat dihabiskan,” tukasnya.

Selain itu, yang menarik dari kedai es krim Zangradi adalah ketiadaan fasilitas colokan listrik dan wifi gratis. Pemilik kedai sepertinya sengaja berbuat demikian agar pengunjung lebih banyak bercakap-cakap dan fokus menikmati hidangan. “Silakan tinggalkan gadget Anda, nikmati es krim kami, dan berbincanglah,” barangkali kalimat ini yang menjadi slogan Kedai Es Krim Zangrandi. (Fahmi Faqih)