Peningkatan Kapasitas Semen di Indonesia Mencapai 113 Juta Ton

SURABAYA-SUREPLUS: Menjelang akhir tahun 2019 ini, tingkat kapasitas semua pabrik semen di Indonesia mencapai 113 juta ton. Jika dibandingkan dengan tingkat demand di tahun 2018 lalu, hanya 70 juta ton. Artinya, terjadi kelebihan kapasitas semen secara nasional sekitar 41 juta ton atau lebih dari 50 persen demand semen di tahun 2018.

Sementara itu, dalam industri manufaktur semen saat ini sedang mengalami banyak problematika tersendiri. Selain tingkat demand tak sesuai harapan kendati pembangunan infrastruktur digenjot, ternyata kapasitas terpasang pabrik semen di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding tingkat pertumbuhan demand di pasar dalam 5 tahun terakhir.

Namun demikian, trend demand semen secara nasional dalam 5 tahun terakhir rata-rata tak pernah melebihi dari angka pertumbuhan ekonomi nasional. Besarannya di kisaran 4 sampai 5 persen per tahun. Sekalipun rezim Jokowi terus menggenjot pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan provinsi lain di Indonesia, angka kumulatif pertumbuhan demand semen tak pernah menyentuh 7 sampai 10 persen per tahun.

Memang, jumlah pemain dan brand semen di pasar nasional bertambah cukup banyak, terutama semen di dari China dan Thailand, seperti Conch, Siam Cement, dan lainnya. Dari tingkat kapasitas semua pabrikan semen yang mencapai 113 juta ton, Grup Semen Indonesia memiliki kapasitas produksi 51 juta ton. Terjadi penambahan kapasitas produksi dari kelompok usaha ini setelah mengakuisisi PT Holcim Indonesia, yang kini brand produknya berubah nama jadi Dynamix.

“Tingkat market share kita sekarang mencapai 53 persen,” kata Sigit Wahono, Kepala Biro Komunikasi Perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, pemain lama semen di Indonesia, seperti PT Indocement tak mengalami peningkatan kapasitas produksi signifikan dalam beberapa tahun. Lonjakan kenaikan kapasitas produksi karena banyaknya pemain baru–terutama dari asing–masuk ke pasar domestik. Contohnya saja, Anhui Conch hingga tahun 2019 memiliki kapasitas produksi 8,7 juta ton per tahun dan memiliki market share sekitar 5,8 persen.

Anhui Conch, pabrikan semen dari China ini memiliki pabrik di Kalsel, Sulut, dan Papua Barat. Pabrikan semen ini menyerang dan mengikis secara pelan-pelan kompetitornya dari kawasan pinggiran. Tak menutup kemungkinan dari tahun ke tahun, Conch makin mengukuhkan pasarnya di Indonesia, mengingat tawaran harga produknya sangat kompetitif dan pabrikan semen ini masuk skala internasional.

Dalam iklim perfect market competition bisnis semen di Indonesia, di mana nyaris tak ada proteksi ekonomi, politik, dan hukum dari negara terhadap produk semen nasional, pabrikan semen nasional dituntut tampil efisien dan adaptif dengan demand dan kepentingan pasar. Hilirisasi produk semen adalah salah satu strategi yang diambil PT Semen Indonesia.

Guna meneruskan hilirisasi produk semen dari Holcim Indonesia yang bervariasi, manajemen Semen Indonesia terus menggenjot produk turunan dari semen ini. Oleh karenanya manajemen pabrikan semen ini akan membangun pabrik mortar dengan kapasitas 375 ribu ton per tahun di Jabar. Selain itu, penguatan pasar berdasar kewilayahan terus dilakukan manajemen PT Semen Indonesia.

Sigit juga mencontohkan produk Semen Andalas sangat kuat di Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darussalam. Dengan tingkat kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton per tahun, pabrik Semen Andalas produknya diwajibkan selalu ada di pasaran kedua provinsi tersebut.

Hal itu disebabkan, end user sangat fanatik dengan Semen Andalas dan sulit beralih ke produk semen brand lain. Begitu pula dengan Jatim dan Jateng sebagai pasar utama produk Semen Gresik, yang pabriknya berada di Gresik, Tuban, dan Rembang. Dua provinsi dengan penduduk besar dan skala volume ekonominya jika diakumulasikan sekitar Rp 3.500 triliun tersebut, menjadi bidikan banyak pabrikan semen besar yang berbisnis di Indonesia.

Jatim dan Jateng menjadi pasar tradisional produk Semen Gresik. Rata-rata tingkat market share produk Semen Indonesia di kedua provinsi ini lebih dari 50 persen. Di Tuban dan Rembang, Semen Indonesia memiliki 5 lini pabrik, yang masing-masing berkapasitas produksi 3 juta ton per tahun. “Alhamdulillah pabrik Rembang produksinya lancar,” ungkapnya.[lana/DM]

Editor: Dony Maulana