Ide Cegah Defisit Neraca Gas Antarkan Mahasiswa Surabaya Sabet Juara

Bella Clarensia, Briangga Herswastio Bromo usai penyerahan hadiah sebagai 1st Runner Up dalam Petrofest 2019 bidang Kompetisi Studi Kasus.

SURABAYA-SUREPLUS: Mahasiswa kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), berhasil menyabet juara 1st Runner Up kategori Kompetisi Studi Kasus, dalam ajang Petrofest 2019. Mahasiswa tersebut, yakni Bella Clarensia, Briangga Herswastio Bromo, dan Muhammad Daffa Alim, dari jurusan Departemen Teknik Kelautan ITS yang tergabung dalam Tim Barden Bellas.

Ketiga mahasiswa ini mengusung ide inovasi berupa teknologi Multi Hydraulically Fractured Lateral Well. Teknologi tersebut merupakan solusi persoalan defisit neraca gas nasional yang mereka tawarkan dalam ajang yang digelar di Universitas Indonesia tersebut.

“Kami menetuskanide itu, saat diberi peran sebagai Pemerintah Indonesia dan BUMN untuk mengelola energi minyak dan gas bumi (migas) non konvensional,” ungkap Bella Clarensia, salah seorang anggota Tim Barden Ballas saat dikonfirmasi reporter Sureplus.id di kampus ITS, Senin (18/11/2019).

Bella mengungkapkan, Neraca Gas Nasional merupakan gambaran pasokan gas bumi dan kebutuhan gas bumi nasional dalam jangka waktu tertentu. Neraca Gas Nasional sendiri disinyalir akan mengalami defisit pada tahun 2025-2027, lantaran kebutuhan masyarakat lebih tinggi daripada persediaan yang ada.

“Karena itulah, kami mencoba sebuah teknologi yang belum pernah diterapkan di Indonesia tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, dengan implementasi teknologi tersebut, proses drilling akan menjadi lebih mudah. Pasalnya proses drilling nantinya hanya akan menggunakan satu wellpad dibarengi dengan multilateral drilling pipe.

“Selama ini satu wellpad hanya untuk satu sumber, tapi kali ini dalam satu wellpad akan digunakan pipa yang banyak,” kata Bella.

Ia menjelaskan, efektivitas inovasi ini ditunjukkan dari seberapa banyak jumlah produksi yang dapat ditingkatkan. Berdasarkan data prediksi perbandingan migas yang dihasilkan dua conventional wells dengan satu multilateral wells, dari data penelitian ini bisa meningkatkan 100 persen jumlah produksi.

Untuk implementasi inovasi tersebut, Bella dan tim telah memilih tiga tempat yaitu Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan dan Pulau Papua. Hal tersebut diukur melalui tiga parameter, di antaranya adalah jumlah gas dalam cekungan, fleksibilitas cekungan, dan sistem distribusi gas.

“Selain mempertimbangkanjumlah gas dan infrastruktur yang, kami (Tim Barden Ballas, red) juga mempertimbangkan apakah terdapat akses yang mudah untuk menuju region tersebut,” ucapnya.

Kendati demikian, Bella mengaku bahwa teknologi yang Ia dan tim tawarkan tersebut, masih sangat sulit untuk diimplementasikan di Indonesia. Hal tersebut disimpulkan melalui ketersediaan migas non konvensional yang hingga kini masih dalam tahap eksplorasi dan belum ada satupun lapangan yang sudah mulai produksi.

“Pencapaian yang kami raih ini tak lepas dari faktor persiapan yang matang. Persiapan tim kami berlangsung selama tiga bulan terhitung sejak Agustus lalu,” tutupnya.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana