Pelaku UMKM: Siap-siap Pangkas Pegawai di Tahun 2020

Berbagai barang produksi UMKM seluruh Surabaya, yang terpajang di Sentra UKM MERR Surabaya. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) yang terjadi di seluruh kota Jawa Timur, terutama Surabaya memiliki dampak tersendiri untuk para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sejumlah pelaku UMKM di Surabaya mengaku akan melakukan pemangkasan pekerja, dan menaikkan gaji beberapa pegawai.

“Ini masalahnya yang harus kita hadapi, sebagai pelaku UMKM. Masalahnya kita pun kesulitan untuk bisa mengikuti peningkatan UMK apalagi yang peningkatannya sekarang mulai 8,51 persen per tanggal satu Januari. Itulah penyebab utama banyak usaha kecil gulung tikar,” ujar Aziz Arifin, seorang pengusaha kerajinan tangan di Surabaya saat ditemui reporter Sureplus.id di rumahnya, Rabu (13/11/2019).

Aziz mengungkapkan, ia bersiap untuk melakukan pemberhentian terhadap sejumlah pegawai yang bekerja padanya. Dalam usahanya, ia memiliki sepuluh pekerja aktif yang setiap harinya membantu produksi sebanyak seribu pernak pernik. Rencananya, ia akan memberhentikan sebanyak lima orang dan mengalokasikan gaji tersebut pada pegawai yang bertahan serta modal kulaknya.

Menurutnya, ia juga harus memikirkan rencana cadangan apabila usahanya ini bangkrut lantaran produksi dan penjualan yang menurun. Padahal, dalam sehari penjualan ia dapat menghasilkan laba bersih sebesar Rp 2 hingga 4 juta. “Saya juga sudah memperkirakan penurunan produksi, karena itulah saya berencana untuk membuka bisnis dengan sistem yang lebih kecil saja,” ujarnya.

Disamping Aziz, seorang pengusaha sandal jepit dan hotel, Erliana juga harus memutar otak untuk meningkatkan penjualan. Hal tersebut, lantaran dirumah produksinya terdapat 20 ibu-ibu pekerja yang rata-rata berusia 40 tahun. Ia mengaku tidak tega apabila harus memberhentikan pegawai, jika bukan karena keinginan pegawai sendiri.

“Saya gak tega juga sama mereka. Mendingan saya mikir lagi aja gimana penjualan bisa meningkat di tahun depan, daripada harus pemberhentian pekerja. Biarkan pemberhentian itu jadi opsi paling terakhir saya, karena mereka juga sudah merasa nyaman disini,” kata Erliana.

Sementara itu, beberapa waktu lalu Kadin Surabaya, Ali Efendi mengatakan para pengusaha pasti menyesuaikan upah setiap tahun. Terkait penetapan kenaikan UMK, sebesar 8,51 persen, menurutnya pemerintah sudah mempertimbangkan dan mempersiapkan berdasarkan rumusan yang ada. “Saya belum berkomentar lebih jauh soal besaran UMK 2020 tersebut,” ucap Ali.

Kendati demikian, ia mengingatkan kalau pemerintah dan masyarakat tidak menutup mata, lantaran akan terjadi resesi ekonomi beberapa tahun ke depan. “Tetapi UMK jika naik tapi tidak dibarengi produktivitas yang meningkat, justru ini yang berbahaya. Pasti dari segi pengusaha akan efisiensi, resikonya akan terjadi pengurangan pekerja,” tutup Ali.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana