Menavigasi Perekonomian Terhadap Perlawanan Arus Global

JAKARTA-SUREPLUS: Hasil survei juga mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia yang diperkirakan bertumbuh dalam waktu dekat (tahun depan) kemungkinan akan didorong oleh gabungan peningkatan fokus pada keberlanjutan, serta pemasok (supplier) dan bahan baku (raw materials) berkualitas tinggi yang disokong oleh tenaga kerja yang terampil untuk meningkatkan produktivitas dan pengembangan bisnis dengan pembukaan pasar baru dan pengenalan produk/layanan baru.

Indonesia, negara terpadat keempat di dunia, telah menjadi ekonomi dengan pertumbuhan pesat selama kurang lebih satu dekade terakhir ini, dimana pertumbuhan setiap tahunannya mencapai sekitar 5 persen sejak 2015. Para pembuat keputusan dalam perusahaan yang disurvei percaya bahwa tahun depan sepertinya masih menjadi tahun pertumbuhan bagi Indonesia.

Hal itu dikarenakan kebijakan ekonomi makro yang bijak dengan memegang prinsip keberhati-hatian (prudent) semakin memperkuat konsumsi domestik dan masuknya aliran investasi. “Melawan arus global sepertinya terdengar ambisius, tetapi masa depan di depan mata terlihat cerah,” sebagaimana disampaikan oleh Dandy Pandi, Country Head, Global Trade and Receivable Finance, PT Bank HSBC Indonesia.

Sekitar 30 persen perusahaan juga menyebutkan bahwa ekspansi ke pasar-pasar baru adalah kunci strategi perluasan mereka. Survei tersebut juga melampirkan pandangan warga dunia tentang perdagangan internasional. Hampir semua kalangan bisnis mengharapkan prospek bagus untuk bisnis internasional dan 45 persen merasa sangat positif akan hal ini.

“Strategi utama bagi bisnis di Indonesia untuk menghadapi ancaman bisnis yang mungkin terjadi, difokuskan pada peningkatan portofolio melalui berbagai cara. Hampir setengah [48 persen] dari perusahaan yang disurvei menyebutkan bahwa mereka meningkatan kualitas produk atau layanan. Selanjutnya, sekitar 26 persen melalui investasi untuk inovasi. Selain itu, penggunaan bahan baku dan pemasok dengan kualitas lebih baik [25 persen], dan perluasan platform dan saluran digital merupakan strategi kunci lainnya,” imbuh Dandy.

Survei ini juga merinci bahwa responden dari Indonesia lebih bersemangat ketika ditanya apakah perdagangan internasional akan mendatangkan kesempatan bisnis untuk lima tahun ke depan (Indonesia 96 persen, dunia 79 persen), menghadirkan inovasi (Indonesia 95 persen, dunia 80 persen), meningkatkan pendapatan (Indonesia 96 persen, dunia 70 persen), efisiensi (Indonesia 94 persen, dunia 78 persen), dan mendukung ketenagakerjaan (Indonesia 94 persen, dunia 73 persen).

“Hasil tersebut umumnya lebih tinggi daripada persentase global. Manfaat yang diharapkan di Indonesia beragam, mulai dari manfaat langsung (kesempatan baru dan efisiensi), manfaat untuk pekerja (pendapatan dan perekrutan kerja) serta manfaat bagi konsumen (inovasi),” kata Dandy.

Satu fakta baru yang menarik dari survei ini yaitu dunia bisnis di Indonesia merasa bahwa proteksionisme semakin marak di negara tempat mereka melakukan aktivitas bisnis. Survei juga mengungkapkan bahwa mayoritas dari para responden berpendapat bahwa hal ini (proteksionisme) lebih memberikan keuntungan. Kalangan bisnis mengatasi dampak proteksionisme dengan berfokus pada kanal digital, pemangkasan biaya, mengubah portofolio, dan mengambil (bahan baku) dari pemasok lokal.

Navigator juga mengungkapkan bahwa lebih dari 85 persen kalangan bisnis di Indonesia memandang bahwa proteksionisme sedang marak. Angka pertumbuhannya cukup signifikan per tahun dari 55 persen di tahun 2017 sampai hampir tiga perempatnya (71 persen) tahun 2018.

Saran Untuk Dunia Bisnis

Dengan pergeseran yang terjadi di tingkat regional dan domestik, semakin banyak perusahaan bergerak menuju era teknologi digital dan menciptakan ekosistem untuk mendukung perubahan itu. Sangat penting agar pebisnis di Indonesia mengikuti perkembangan zaman dengan menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi operasional, meningkatkan penjualan, dan menemukan mitra strategis yang tepat.

Perusahaan-perusahaan juga dapat fokus pada penjualan online. Menurut Navigator, 40 persen perusahaan melihat metode ini sebagai cara untuk menangkal proteksionisme dan 34 persen menggunakannya sebagai strategi untuk mengurangi risiko geopolitik. “Iklim politik global saat ini juga mengharuskan perusahaan menilai kekuatan dan keandalan rantai pasokan mereka. Mengamankan pasokan bahan baku dan energi adalah kuncinya,” Dandy berpendapat.

Perusahaan di Indonesia harus memperhatikan seruan keberlanjutan dari dunia internasional, kompetitor, dan investor, karena pada akhirnya hal ini akan memberikan keuntungan jangka panjang bagi perusahaan. Selain itu, perusahaan harus fokus pada keuangan, berinvestasi lebih banyak di sektor teknologi, serta mengembangkan kerangka kerja berkelanjutan. Navigator juga menyarankan sektor manufaktur Indonesia untuk fokus pada rantai pasokan yang dapat dilacak (traceable supply chain).[lana/DM]

Editor: Dony Maulana