Festival Ekonomi Syariah di Grand City Surabaya Resmi Dibuka

Festival Ekonomi Syariah Indonesia (FESyar) regional Jawa yang digelar di Surabaya, Jawa Timur resmi dibuka, oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Direktur KNKS Ronald Rulindo.FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Acara Festival Ekonomi Syariah (FESyar) secara resmi telah dibuka.Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo membuka Festival Ekonomi Syariah Indonesia bertema “Sinergi Membangun Ekonomi Syariah Indonesia” di Grand City Surabaya. Dalam pembukaanya, Dody menyatakan, bahwa acara ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan Festival Ekonomi Syariah, yang telah dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi stakeholders dari beberapa daerah di seluruh Indonesia.

Tema ini diambil dengan kesadaran akan pentingnya komitmen yang kuat dalam mewujudkan sinergi antar pemangku kepentingan di Indonesia untuk lebih meningkatkan peranan ekonomi dan keuangan syariah bagi perekonomian nasional.

“FESyar putaran pertama berlangsung di Palembang yang mewakili regional Sumatera pada Agustus lalu dan berhasil menorehkan capaian yang cukup memuaskan. Capaian itu, dari sisi pelaksanaan fair dikunjungi kurang lebih 11 ribu orang selama 3 hari dan transaksi business matching yang mencapai Rp 2,11 triliun, atau meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp 210 miliar,” ungap Dody, saat memberikan sambutan di Pembukaan FESyar 2019 di Grand City Mall Surabaya, Kamis (7/11/2019).

Dody mengungkapkan, dari segi sharia forum FESyar Sumatera menaruh perhatian yang sangat besar terhadap upaya mewujudkan skema halal value chain yang mapan dan bisa melibatkan potensi yang besar dalam lingkup kerjasama antar daerah, khususnya dengan pembentukan halal-hub yang bisa menampilkan keunggulan komparatif pada setiap daerah.

“Sinergi yang erat dalam naungan KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah), tentunya menjadi penting untuk terus dijaga dan menjadi modal yang besar dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia di masa yang akan datang,” ujarnya.

Menurutnya, sinergi juga menjadi prasyarat penting yang harus dipenuhi untuk memperkuat pelaksanaan 4 strategi utama pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di tanah air, seperti yang tercantum dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019 – 2024, yang meliputi diantaranya penguatan rantai nilai halal,  penguatan sektor keuangan syariah, penguatan usaha mikro, kecil dan menengah dan pemanfaatan ekonomi digital.

“Perekonomian Indonesia pada triwulan III tumbuh 5,02% (yoy), atau relatif sama dengan capaian triwulan sebelumnya yang sebesar 5,05% (yoy), didukung permintaan domestik yang tetap terjaga dan Kinerja sektor eksternal yang menguat di tengah permintaan dan harga komoditas global yang masih menghadapi tekanan,” kata Dody.

Ia menjelaskan, secara khusus capaian positif tersebut tentunya tidak bisa terlepas dari kinerja perekonomian daerah yang cukup baik, khususnya di wilayah Jawa (tumbuh 5,56% (yoy), Sumatera (tumbuh 4,49% (yoy), Kalimantan (tumbuh 5,92% (yoy), dan Bali – Nusa Tenggara(tumbuh 5,28% (yoy). BI juga mengapresiasi perekonomian Jawa Timur pada Triwulan III ini yang masih terjaga di angka 5,32% (yoy) meski lebih rendah dibandingkan Triwulan sebelumnya yang sebesar 5,72% (yoy).

Kendati demikian, tantangan yang akan dihadapi Jawa Timur ke depan tentunya tidak semakin mudah, terlebih ketika risiko global yang masih menyelimuti kinerja sektor eksternal di daerah [Jatim mengalami kontraksi ekspor dan impor yang lebih dalam.

“Semoga kedua FESyar yang telah dilaksanakan dengan sukses tersebut, akan menjadi bekal yang berharga bagi kita semua, untuk bisa merumuskan strategi dan arah kebijakan yang tepat dalam membaca kebutuhan masyarakat akan produk dan layanan jasa di bidang eksyar yang lebih baik di masa akan datang,” tutup Dody.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana