Tips Hindari Investasi Bodong

Gedung perusahaan investasi yang ada di kota Surabaya.

SURABAYA-SUREPLUS: Saat ini banyak sekali perusahaan investasi yang menawarkan layanan dan keuntungan yang berlipat. Namun, tidak sedikit juga oknum yang melakukan penipuan berkedok investasi atau biasa disebut investasi bodong. Di Surabaya sendiri, sejumlah pengusaha kecil dan menengah juga telah berinvestasi di perusahaan, dan beberapa diantaranya pernah tertipu oleh investasi bodong.

Indra Sebastian (34), seorang yang berprofesi sebagai dosen akutansi di salah satu kampus Surabaya, serta pemilik cafe di Surabaya, Jawa Timur merupakan salah satu orang yang menanamkan modal di perusahaan.  Ia menganjurkan untuk para investor pemula, agar waspada jika mendapat tawaran keuntungan yang luar biasa menarik.

“Memang tidak semua tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan yang menarik bisa dikategorikan investasi bodong. Namun, ada baiknya untuk waspada jika mendapat tawaran demikian,” ungkap Indra, saat diwawancarai reporter Sureplus.id di Taman Bungkul, Selasa (5/11/2019).

Indra mengungkapkan, alangkah baiknya untuk melakukan perhitungan matematika secara sederhana untuk memperkirakan apakah tawaran tersebut masuk akal. Terutama jika dengan uang yang jumlahnya tidak terlalu besar, kita dijanjikan keuntungan yang sangat besar dan dalam jangka waktu yang sangat pendek.

Disamping itu, seorang pemilik warung kopi, Lina Sustiati mengatakan, dirinya pernah tertipu oleh salah satu investasi bodong. Hal tersebut, lantaran ia masih belum mengetahui tentang investasi dan terlanjur tergiur oleh keuntungannya.

“Waktu itu saya dapat tawaran dari seseorang berinisial F yang datang ke warung saya. Pertama ngobrol biasa, habis gitu dia cerita  soal pekerjaannya, asetnya sama berapa rupiah yang dihasilkan tiap hari. Ya namanya belum tau, akhirnya saya juga kepingin. Syaratnya adalah saya harus stor ke dia dulu sebanyak Rp 10 juta, katanya sih untuk modal awal,” ujarnya.

Ia melanjutkan, dalam kurun waktu seminggu ia menghubungi F untuk menyatakan ingin ikut berinvestasi. Saat itulah, ketika pengiriman selesai dilakukan, F tidak dapat dihubungi lagi. Lina baru menyadari ia telah ditipu, saat ia berkonsultasi pada salah satu langganan warungnya yang merupakan mahasiswa jurusan ekonomi pembangunan.

“Saya dari sana paham, setiap perusahaan atau produk keuangan, terutama yang menghimpun dana masyarakat dan pengelolaan investasi harus mengantongi izin dari beberapa instansi negara. Nah sejak saat itu juga, saya ikhlaskan saja dan belajar lagi lebih banyak soal investasi. Sekarang, saya sudah melakukan investasi di beberapa tempat, bukan di perusahaan,” ucap Lina.

Heri Ismail, yang merupakan guru les privat serta pemilik usaha distro dan sablon di Surabaya juga memberikan cara efektif agar terhindar dari investasi bodong.  Menurutnya, ketelitian merupakan kunci utama hindari investasi bodong.

“Dalam berbagai produk investasi yang resmi, mekanisme cara kerja,  pembagian keuntungan dan hal-hal lainnya sudah diatur secara jelas. Bahkan sebagian besar perusahaan sudah memiliki standar operasi yang baku dalam menjalankan produk,” kata Heri.

Kendati demikian, sebaliknya,perusahaan atau lembaga yang menjalankan investasi bodong, terkadang tidak mempunyai standar baku bagaimana menjalankan produk investasi tersebut. Bahkan ada beberapa investasi bodong yang justru tidak memiliki produk dan cara penjualan resmi.

“Jangan termakan rayuan yang memaksa anda untuk mengambil keputusan dengan segera atau terkesan memaksa. Ada baiknya anda mempelajari secara teliti produk inestasitersebut, termasuk mencari tahu latar belakang perusahaan penyelenggara,” tutup heri.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana