Nelayan Siapkan Stok Ikan Sebelum Masuki Musim Hujan Total

Nelayan tradisional Kenjeran, Surabaya tengah menyiapkan kapal untuk berlayar. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Musim hujan yang sebentar lagi akan mengguyur Surabaya, membuat sejumlah beberapa nelayan tradisional harus bekerja ekstra. Hal tersebut, lantaran melaut di saat musim hujan total sangat berisiko tersapu oleh ombak, dan bahkan tidak mendapat tangkapan. Akhirnya beberapa nelayan menempuh jalan dengan menyimpan stok ikan di gudang pribadi.

“Stok saya hanya cukup untuk tiga bulan kira-kira. Itu saja tergantung dari permintaan dari pedagang pasar juga. Cara mengawetkannya mudah kok. Saya punya beberapa box pendingin khusus ikan dirumah saya, sama dirumah anak saya. Jadi kita taruh ikan disitu, terus tutup dan jangan dibuka sampai waktu yang kita tentukan,” ungkap Rusman, salah satu nelayan saat diwawancarai reporter Sureplus.id di Pantai Kenjeran, Senin (4/11/2019).

Rusman mengungkapkan, dalam beberapa hari ini ia tidak pulang kerumah untuk pergi melaut. Alhasil, dalam sekali berlayar ia bisa mendapatkan sebanyak 4 kuintal. Ia mengaku, baru mulai menambah stok ikan, saat ia tahu bahwa beberapa wilayah Jawa Timur telah diguyur hujan.

“Kalau stok sudah habis, ya kita harus melaut lagi suka atau tidak. Tapi ya para nelayan disini juga sudah banyak yang bisa baca cuaca saat melaut. Kan kalau musim hujan juga tidak berarti setiap hari hujan,” ujarnya.

Selain Rusma, seorang nelayan tradisional lain yakni Wahyu mengatakan bahwa ia juga telah memiliki persediaan tersendiri khusus musim hujan. Dalam penyimpanannya, telah terdapat stok ikan patin, ikan tongkol, cumi cumi, kerang dan hasil laut lainnya.

“Kalau saya berjualan punya cara sendiri. Jadi di musim hujan ini biasanya akan terjadi kondisi dalam beberapa hari di pasar, stok ikannya kosong. Saya biasa nyebut itu “pasar buta”. Jadi ketika yang lain menaikkan harga ikan, saya bisa menjualkan dengan harga standart,” kata Wahyu.

Ia berdalih, memang musim hujan dari tahun ke tahun mempengaruhi jumlah tangkapan nelayan. Dirinya juga menceritakan, pengalamannya saat tergulung ombak saat berumur 29 tahun. Ia berlayar dengan jarak 15 mil dari pantai saat mendung. Ketika telah menebar jala, hujan turun dengan sangat derasnya.

“Waktu itu awalnya hanya hujan biasa, tapi beberapa menit kemudian angin kencang, ya akhirnya saya putuskan buat kembali. Sudah tinggal bebeberapa kilo dengan pantai, angin sama ombak dari arah barat hantam perahu saya. Udah kapal saya terbalik, tangkapan saya juga lepas, untung ada nelayan lain yang juga lagi berlayar,” ucapnya.

Kendati demikian, tidak sedikit pula nelayan yang mengambil resiko untuk berlayar di tengah cuaca yang mendung. Umumnya, mereka hanya membawa terpal dan dayung sebagai alternatif saat hujan mulai turun.

“Yah mungkin karena kebutuhan juga. Tapi alangkah baiknya, kalau untuk musim hujan jangan menangkap ikan di laut lepas dulu, karena keselamatan harus diutamakan,” tutup Wahyu.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana