Disperindag Sosialiasikan Potensi Ekspor Jawa Timur ke Kalangan Muda Surabaya

Kepala Bidang Perdagangan Internasional Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, Desak Nyoman Siksiawati MMA saat memaparkan materi kuliah umum di hadapan mahasiswa Manajemen Bisnis ITS.FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Meskipun mengalami pertumbuhan nilai ekspor yang tipis, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Seperti yang diuraikan Kepala Bidang Perdagangan Internasional Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, Ir Desak Nyoman Siksiawati MMA saat mengisi kuliah tamu di Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

“Saat ini, Jawa Timur masih berada pada skala pertumbuhan nilai ekspor yang tergolong biasa-biasa saja. Hal ini dibuktikan dari persentase Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang siap dijalankan masih berkisar di bawah satu persen,” ungkap Nyoman, saat memberikan sosialisasi seputar potensi ekspot Jatim di ITS, Senin (28/10/2019).

Nyoman mengungkapkan, angka itulah yang kemudian menjadi pusat perhatian bersama dalam menentukan visi kerja ke depan. Ia menuturkan, hal ini perlu dioptimalkan lagi melalui program percepatan ekspor serta karya-karya bersama masyarakat dan perguruan tinggi.

Menurutnya, salah satu penyebab kurang maksimalnya potensi tersebut, yakni karena adanya isu-isu yang sering muncul di masyarakat dan dengan mudahnya mampu memobilisasi masyarakat. Isu-isu ini yang kemudian berdampak pada beberapa sektor, termasuk perdagangan dan ekspor negara.

“Salah satu yang bisa kami lakukan adalah melakukan sosialisasi kepada para mahasiswa seperti ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, komoditi nonminyak dan gas (migas) lah yang berada di posisi teratas. Dalam total ekspor selama Agustus 2019, nonmigas menyumbang sebesar 94,21 persen. Sedangkan negara yang menjadi sasaran terbesar ekspor Jawa Timur adalah Jepang, yang kemudian disusul Amerika, Tiongkok dan Singapura di posisi berikutnya.

“Permata adalah komoditi terbesar Jawa Timur secara nasional. Selain itu juga ada kayu, tembaga, lemak hewan atau nabati, ikan dan udang, serta masih banyak lagi,” kata Nyoman.

Terdapat beberapa kendala mendasar yang menjadi tantangan bersama. Secara eksternal, biaya logistik yang tinggi serta adanya prosedur birokrasi yang menimbulkan biaya tambahan, menyebabkan pelaku usaha kesulitan dalam melakukan kegiatan ekspor. Selain itu, kondisi perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok saat ini pun turut berpengaruh besar terhadap ekspor Jawa Timur.

“Kalau secara internal, pelaku usaha masih banyak yang ragu dengan pangsa internasional, ada juga yang masih terkendala modal usaha,” tuturnya.

Dia berpendapat, tantangan ini, tentunya memerlukan upaya-upaya khusus, salah satunya melalui sinergi antara pemerintah, akademisi dan pelaku bisnis. Sinergi ini diperlukan guna membuat kebijakan-kebijakan bersama yang berguna dalam peningkatan nilai ekspor. Selain itu, tim khusus bernama Tim Fasilitasi Percepatan Pengembangan Kawasan Industri (TFP2KI) yang dibentuk oleh Pemprov Jawa Timur turut menjadi salah satu cara.

“Tujuan utama tim ini adalah terwujudnya eksistensi, sinkronisasi dan koordinasi kelembagaan agar dapat menjalankan tugas masing-masing secara efektif,” tutup Nyoman.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana