Permainan Papan Survival Land dan The Pamona Ajak Milenial Latih Kekompakan

Pengunjung main bersama diarea Informatics Creative Festival 2019, di Atrium Hall East Coast Center Lt. 1, Pakuwon City, Surabaya. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Dua mahasiswa program studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya), telah menciptakan sebuah permainan papan (board games) bernama “Survival Land” dan “The Pamona”. Permainan ini,  memberikan pengalaman bermain tersendiri, khususnya kepada generasi milenial.

Permainan papan “Survival Land” buatan Robert Surya Nata, merupakan permainan mengasah otak dan melatih kerjasama tim dalam bertahan hidup di alam terbuka, dengan membuat rute perjalanan yang tepat untuk mencapai garis finish bersama. Demikian juga dengan karya milik Victor Riyois Sorongku, yakni “The Pamona” milik dilengkapi dengan penjelasan yang mengedukasi pemain terkait potensi wisata kabupaten Poso, Sulawesi Tengah yang jarang diketahui oleh masyarakat Indonesia.

“Permainan papan “Survival Land”, merupakan cara baru melatih kekompakan dan kerjasama tim di kalangan generasi milenial. Permainan ini dirancang untuk meminimalisir sisi negatif dari penggunaan gadget yang membuat generasi milenial menjadi pribadi yang individu, egois dan cenderung mengurangi pertemuan tatap muka dalam berkomunikasi,” ungkap Robert Surya Nata, saat diwawancarai reporter Sureplus.id di Kampus UBAYA, Jumat (13/9/2019).

Robert mengungkapkan, permainan ini berbeda dengan board games pada umumnya, yakni kemenangan dalam permainan bukan diraih secara individu namun berkelompok. Setiap pemain dalam permainan digambarkan sebagai sekelompok anak dari abad 22 yang terlempar ke dunia masa lalu dimana terjadi banyak bencana di dalamnya.

Selain berusaha menemukan rute jalan, pemain akan berhadapan dengan bencana alam yang membuat dirinya atau pemain lain terluka dan perjalanan terganggu. “Setiap pemain memiliki kemampuan masing-masing yang berguna untuk saling membantu dalam permainan,” ujarnya.

Menurutnya, pemain dapat berperan sebagai Path Fixer untuk membuka jalan yang terkena bencana seperti longsor dan pohon tumbang, Medic bertugas menyembuhkan diri sendiri atau pemain lain yang terluka terkena bencana, dan Path Finder memiliki kemampuan melihat rute jalan yang ingin dibuka dengan jarak dua kartu didepannya.

“Board games “Survival Land” dapat dimainkan dengan durasi permainan selama 30 sampai 60 menit oleh tiga hingga enam orang untuk usia 18 tahun keatas,” kata Robert.

Kendati demikian, permainan ini membutuhkan strategi, komunikasi, dan kerjasama tim yang baik. Jika meninggalkan salah satu pemain dalam games, maka permainan akan berakhir dan kalah.

“Kalau mau menang, gak boleh meninggalkan pemain yang lain dan harus saling membantu jika terkena bencana alam selama permainan berlangsung. Setiap pemain harus menurunkan ego masing-masing untuk mencapai garis finish dan meraih kemenangan bersama,” tutup Robert.

The Pamona

Sementara itu, Victor Riyois Sorongku juga menjelaskan seputar board games “The Pamona”, yang dibuat untuk memperkenalkan salah satu potensi wisata yang ada di wilayah Indonesia yaitu Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Pamona merupakan nama suku asli yang tersebar di Kabupaten Poso.

“Melalui board games ini, setiap pemain diajak untuk menjelajah lokasi wisata, mengetahui hasil bumi, melihat bentuk ukiran, dan hidup beradaptasi seperti suku Pamona. Pemain juga mendapat penjelasan dan gambar terkait lokasi wisata dan artefak pada kartu permainan agar pemain mendapat gambaran, sejarah dan informasi yang jelas,” tutur Victor.

Ia menjelaskan, permainan ini juga menggunakan perhitungan dan melatih otak untuk menukar material hasil bumi yang didapat pada setiap lokasi sesuai dengan syarat untuk berpindah tempat atau melakukan aktivitas lain seperti memancing, berkebun, hingga menukarkan kunci peti untuk membuka peti artefak.

Pemain akan dikatakan selesai dan menang jika berhasil mengumpulkan tiga artefak bersejarah suku Pamona yaitu Pasatimpo, Pamona King’s Tomb, dan Baoela Statue yang tersebar di wisata terpencil yaitu Air Terjun Saluopa, Watumora’a dan Lembah Bada. Board games “The Pamona” dapat dimainkan dengan durasi permainan selama 45 sampai 80 menit oleh tiga hingga enam orang untuk usia 14 tahun keatas.

“Bermain sekaligus memperkenalkan wisata alam Kabupaten Poso dan budaya suku Pamona, itu konsep board games ini. Terdapat 29 lokasi wisata yang ada pada papan permainan. Pemain juga dapat berkebun dan mendapatkan hasil bumi suku Pamona berupa cokelat dan cengkeh. Selain itu, pemain juga bisa memancing dan menyusuri danau Poso dengan perahu Katinting. Saya berharap dengan penjelasan permainan yang menggunakan bahasa Inggris tidak hanya menarik masyarakat Indonesia untuk bermain tetapi dapat menjadi media hiburan dan promosi wisata bagi wisatawan asing,” jelasnya.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana