Kenaikan NTP Jatim Agustus 2019 Belum Capai Angka 1 Persen

Nilai Tukar Petani Jawa Timur pada bulan Agustus 2019 berhasil naik. FOTO: SUREPLUS/DOK

SURABAYA-SUREPLUS: Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani di daerah perdesaan, yakni indikator Nilai Tukar Petani (NTP). Nilai Tukar Petani Jawa Timur pada bulan Agustus 2019 berhasil naik, namun belum mencapai angka 1 persen. Kenaikan yang terjadi pada bulan Agustus 2019, adalah sebesar 0,75 persen dari 108,55 menjadi 109,36.

“Ini karena indeks harga yang diterima petani (It), mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib). Indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,83 persen dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik sebesar 0,07 persen,” ungkap Teguh Pramono, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, saat diwawancarai reporter Sureplus.id via ponsel, Jumat (13/9/2019).

Teguh mengungkapkan, jika dilihat perkembangan masing-masing sub sektor pada bulan Agustus 2019, empat sub sektor pertanian mengalami kenaikan NTP, sedangkan sisanya mengalami penurunan.

Menurutnya, sub sektor yang mengalami kenaikan NTP terbesar terjadi pada sub sektor Tanaman Pangan sebesar 1,31 persen dari 110,58 menjadi 112,03, diikuti sub sektor Perikanan sebesar 1,24 persen dari 112,30 menjadi 113,69, sub sektor Peternakan sebesar 1,06 persen dari 112,84 menjadi 114,04, dan sub sektor Hortikultura sebesar 0,06 persen dari 101,63 menjadi 101,70.

“Untuk sub sektor yang mengalami penurunan NTP adalah sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,47 persen dari 104,35 menjadi 103,85,” ujarnya.

Indeks harga yang diterima petani naik 0,83 persen dibanding bulan Juli yaitu dari 152,53 menjadi 153,79. Sepuluh komoditas utama yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang diterima petani bulan Agustus 2019 adalah gabah, sapi potong, cabai rawit, rumput laut, buah mangga, udang, tebu, tongkol, bandeng, dan ikan kembung.

“Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang diterima petani adalah bawang merah, kopi, ketela pohon/ubi kayu, vanili, lele, cengkeh, tomat, kol/kubis, kelapa, dan bawang daun,” kata Teguh.

Kendati demikian, indeks harga yang dibayar petani terdiri dari 2 golongan yaitu golongan konsumsi rumah tangga dan golongan biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM). Golongan konsumsi rumah tangga dibagi menjadi kelompok makanan dan kelompok non makanan.

Pada bulan Agustus 2019, indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,07 persen dibanding bulan Juli 2019 yaitu dari 140,52 menjadi 140,62. Kenaikan indeks ini disebabkan karena indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi perdesaan) mengalami kenaikan sebesar 0,004 persen, dan indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM) naik sebesar 0,19 persen.

“Di bulan Agustus 2019, sepuluh komoditas utama yang mendorong kenaikan indeks harga yang dibayar petani adalah cabai rawit, cabai merah, beras, upah membersihkan kapal, upah pemeliharaan, buncis, bibit ayam ras pedaging, jagung pipilan, upah membajak lahan budidaya, dan rumput segar,” ucapnya.

Sementara itu, sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang dibayar petani bulan Agustus 2019 adalah tomat sayur, bawang merah, bawang putih, terung, jeruk, ketimun, umpan, es batu, bayam, dan lada/merica.

“Dari lima Provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan pada bulan Agustus 2019, Semua Provinsi mengalami kenaikan NTP. Kenaikan NTP terbesar terjadi di Provinsi Banten sebesar 1,29 persen, diikuti Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 1,22 persen, Provinsi Jawa Tengah sebesar 1,16 persen, Provinsi Jawa Barat sebesar 0,83 persen, dan Provinsi Jawa Timur sebesar 0,75 persen,” tutup Teguh.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana